Senin, 30 Januari 2012


Waktunya Kembali

        Manusia bertindak sesuai dengan pemikirannya. Jika anak-anak yang belum mengerti pisau diberi pisau maka dia bisa mengiris tangannya dan membuangnya setelah merasa itu sakit berbeda dengan anak yang sudah pernah menyimpan memori sebelumnya yang tentu berpikir seribu kali untuk menjadikannya sebagai mainan. Pemikiran atau persepsi seseorang dapat berubah sesuai informasi yang didapat. Jika sekuler telah membalut dan menjadi hal biasa dalam kehidupan tentu akan terilustrasi dari ucapan ataupun tindakannya.  Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita bertindak sesuai dengan Al-qur’an dan sunnah dengan mengambil secara utuh sebagai sumber dalam hidup yang datangnya dari Pencipta. Utuh tentu tidak sama artinya dengan sebagian-sebagian. Jika diibaratkan anda menanam “sebatang pohon rambutan” di halaman rumah tentu bukan hanya dengan memiliki batangnya lantas bisa dikatakan anda punya pohon rambutan. Jadi, disini kita bukan belajar tentang pars pro toto atau totem pro parte. 
  Peraturan Islam melingkup semua aspek kehidupan. Islam datang sebagai rahmatan lil alamin yakni rahmat bagi seluruh alam. Tentu saja jika sistem kehidupan islam yang kita maknai sungguh-sungguh dalam setiap sendi kehidupan maka akan mensejahterakan seluruh alam bukan hanya bagi umat muslim tetapi juga untuk non muslim. Seperti dalam sistem perekonomian. Walaupun pernah dipelajari di SMP sampai SMA kelas X sebenarnya saya tidak begitu paham tentang sistem perekonomian. Hal ini terjadi mungkin karena tidak peduli karena saya bukan anak IPS atau karena yang penting bisa terpenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga berarti perekonomian negara kita sehat, tanpa berpikir bagaiamana sistem ekonomi sekarang ini mensejahterakan umat atau malah melilit semakin sesak.

Mari kita telisik dari hal yang paling dekat dlm kehidupan sehari-hari, yakni alat tukar. Uang yang beredar di masyarakat tidak mencerminkan ekonomi yang riil. Uang kertas mampunyai nilai intrinsik (nilai bahan pembuat uang) yang sangat kecil dari nilai yang terlabel diatasnya. Berbeda dengan bahan uang emas (dinar) yang mempunyai nilai sesuai dengan bahan intrinsiknya dan tidak pernah mengalami inflasi. 1 dinar yang 1400 tahun lalu sama dengan daya tukarnya terhadap barang saat ini. Tidak seperti uang berlabel sekarang,  Uang Rp.250,- yang kita gunakan di tahun 98 untuk membeli Mie Instan tentu tidak bisa lagi dipakai saat ini. Uang Rp.25,- untuk membeli permen sudah tidak ada nilainya saat ini dan sudah ditarik dari peredaran. Semua itu karena inflasi.*

Pada tahun 1997, Indonesia terlihat jauh dari krisis, inflasi di Indonesia rendah, cadangan devisa luar biasa besar. Namun dengan melemahnya mata uang negara-negara Asia saat itu ditambah banyaknya utang perusahaan nasional dalam bentuk USD telah melumat kekuatan nilai rupiah hingga USD 1 = Rp.17.000,-. Saya ikut merasakan dampaknya. Saya ingat saat masih di Taman Kanak, saya tidak pernah bertanya kenapa susu kaleng bubuk yang biasa saya minum dua kali sehari berganti menjadi teh manis. Saya hanya lebih suka karena rasanya baru dan botol minuman yang menemaniku ke TK tidak begitu berbau karena sisa susu yang tersimpan lama.*

Seperti itulah yang terjadi, kita tidak akan pernah tahu kapan terjadinya inflasi. Belum lagi sistem riba yang semakin kondang dalam sistem ekonomi saat ini. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengutuk riba. Sudah tidak dapat dihitung lembaga atau individu yang meminjamkan uang dengan mencantolkan bunga saat dikembalikan. Dan ingatlah saudaraku bagi yang meminjamkan, peminjam dan saksi semuanya adalah berdosa. AStagfirullahal Adzim.

Pernyataan diatas bukan menjdaikan kita untuk mengeluh atau meratap atau hanya berdiam diri. Bukan untuk sekedar menunggu waktu yang tepat dan terjadi dengan sendirinya. Kita harus berjuang menyadarkan umat tentang pentingnya syariat, sistem yang pemikirannya dari Allah. Tentu saja sistem atau peraturan dari Allah akan mendatangkan berkah/ kebaikan dunia dan akhirat. (kita sama-sama belajar). 


*baca lengkap ttg dinar dlm buku "Think Dinar" karya Endy Kurniawan
Ctt: kita sama-sama belajar, tlg ingatkan ya kalau keliru. Kebenaran mutlak hanya milik Allah. :)

by: ham Haazimah

Minggu, 15 Mei 2011

Betapa Islam memuliakan wanita

           Tidak sedikit berita tentang pelecehan terhadap kaum hawa, kekerasan dan segala bentuk penindasan terhadap sosok lembut yang seharusnya menjadi pendidik keluarga bermunculan di media cetak maupun media elektronik. Bahkan mungkin terjadi di sekitar kita. Seperti yang akhir-akhir ini marak di angkutan umum, kereta api listrik, seorang wanita dilecehkan beramai-ramai saat perjalanan menuju kantor di kawasan Tanah Abang.  Naudzubillah min dzalik, perbuatan yang immoral tidak lagi malu dilakukan bahkan di tempat umum. Selain itu, kekerasan dalam rumah tangga baik dalam hubungan suami istri atau sebagai pembantu yang menjadi korban adalah pendamping Adam. Dan semua itu terjadi di negeri kita yang penduduknya mayoritas mengaku islam di kelurahan atau di catatan sipil.

            Dalam islam tidak menghormati kesetaraan jender, wanita lebih baik mengurusi anak dan dapur daripada berkarir di luar rumah. Wanita adalah kaum lemah yang kedudukannya lebih rendah daripada pria. Bahkan ada yang mengaku islam tetapi mengagung-agungkan kelahiran anak lelaki dalam keluarganya daripada perempuan. Benarkah wanita adalah makhluk lemah jadi bisa dengan mudah dilecehkan? Bagaimana sebenarnya kedudukan wanita dalam islam? Benarkah kaum Adam lebih mulia dari kaum Hawa?

            Pertanyaan muncul bisa karena kritis, menguji, atau ketidaktahuan. Jika, suatu perkara sudah jelas jawaban dan sumbernya maka bisa dianggap sebagai ketidaktahuan atau kebodohan. Dalam Al-Qur’an dan Hadis sudah dicantumkan secara jelas kedudukan pria dan wanita adalah sama. Bahkan Allah memberikan kemuliaan bagi wanita sehingga dia bisa mengandung dan melahirkan makhluk suci dari rahimnya.

            Mari kita menilik sejarah, bagaimana pada masa jahiliyah kelahiran anak perempuan membawa murka bagi ayahnya. Anak perempuan lebih banyak di kubur hidup-hidup daripada ditimang. Dan seorang pria dlm adat jahiliyyah berhak menikahi berapa pun wanita yg diinginkan tanpa ada batasan dan tanpa memerhatikan hak-hak para istrinya. Sebelum kedatangan Islam yang diajakkan oleh Rasulullah seperti itulah mereka memperlakukan kaum yang bernama wanita. Hal ini juga yang terjadi pada bangsa Romawi di zaman kuno.  Wanita dilecehkan, ditindas, dianggap layaknya seperti barang yang juga bisa diwariskan jika suaminya meninggal bukan sebagai penerima warisan. Masih banyak lagi fakta yang memaparkan pada zaman dulu wanita lebih rendah daripada pria bahkan tidak bernilai dan dianggap tidak memiliki ruh. Naudzubillah.
            Bagaimana dengan Islam?
            Kedatangan islam mengangkat derajat para wanita yang sama sekali tidak dianggap pada masa itu. Dalam surah An-Nahl ayat 97:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl : 97)
            Dalam ayat ini Allah menyetarakan laki-laki dan perempuan. Tidak ada perbedaan antara keduanya. Hal serupa juga dijelaskan di surah Ali-Imran ayat 195.  Jadi jika berteriak-teriak tentang emansipasi, sudah sejak dahulu Allah menyetarakan kedudukan antara kaum lelaki dan perempuan. Bahkan Allah menurunkan surah An- nisa yang berarti wanita atau perempuan.

            Dalam surah An-Nahl ayat 58-59, Allah  melaknat orang-orang yang mengubur anak perempuannya. Anak lelaki dan anak perempuan sama saja, keduanya adalah anugerah bagi kedua orangtuanya. Rasulullah sendiri selalu suka cita atas kelahiran anak-anak perempuannya di dunia. Tidak ada rasa sedih walau dihardik oleh kaumnya sebagai lelaki yang putus keturunannya karena tidak memiliki putra. Rasulullah dengan penuh cinta menyayangi anak perempuannya di tengah kaum yang menistakan perempuan. Beliau menyerukan seperti dalam hadis berikut:

“Barangsiapa yang memiliki anak perempuan dan tidak menguburkannya hidup-hidup, tidak mempermalukannya, dan tidak melebihhkan anak laki-laki atasnya, Allah akan memasukkannya ke dalam surga. “ (HR Ahmad no. 1957).[2]    

Islam sangat memuliakan kedudukan wanita. Allah berfirman dalam surah lukman ayat 14 :
“Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (Lukman:14)

            Dalam surah ini Allah memfirmankan bahwa ibu telah mengandung dan memberikan ASI selama dua tahun kepada anak-anaknya, maka manusia wajib berbuat baik kepada orangtua khususnya ibu. Dan yang dianugerahkan kemuliaan mengandung dan menyapih itu tentu saja kaum hawa. Rasulullah sendiri pernah ditanya tentang yang mana didahulukan berbuat baik kepada orangtua, dan jawabanRasulullah menyebut tiga kali nama ibu setelah itu ayah. Kemuliaan mana lagi yang kita cari dalam islam sebagai seorang wanita. Jika kita lebih banyak di rumah dengan melayani suami dan mendidik anak-anak, itu adalah tanggung jawab yang sangat besar dan karena kemuliaan yang diberi Allah-lah wanita bisa mengembannya.

            Islam memuliakam wanita dengan cara tersendiri. Dengan cara unik yang membuat hati terpanah jika kita orang yang mau berpikir. Allah melindungi wanita agar jauh dari pelecehan seksual dengan memerintahkan menutup aurat dan tidak bercampur baur dengan pria. Allah menciptakan lelaki untuk melindungi wanita dan wanita sebagai makhluk yang lembut yang mampu menyenangkan hati pendampingnya. Wanita juga diberi karuania dengan kebahagiaan luar biasa menyaksikan kelahiran anak dari rahimnya. Karena wanita begitu berharga.

            oOo


Karya ini telah diikutkan dalam IMM Islam dan Wanita

Rabu, 27 April 2011

INSPIRASIKU MENULIS

INSPIRASIKU MENULIS

Inspirasi menulis bisa berasal dari mana saja. Termasuk orang yang paling dekat dengan keseharian kita.


Sms dari Mama menjadi gerimis dalam hatiku. Gerimis itu pula yang menumbuhkan pohon yang akarnya mencokol yang akan tumbuh menjadi pohon tangguh seperti pohon jati dan menghasillkan karya sebagai buahnya karena langsung menyerap hara dari darahku.  Aku tidak menyangka mamaku mendukung keinginanku. Awalnya aku hanya sekedar meminta tanggapannya tentang karya pertamaku, beliau memberi banyak masukan dan mendorongku untuk membuat karya lagi. Karena itulah beliau, asalakan baik dan benar dia tidak ragu memberi dukungan penuh padaku. Yang kutahu “Keridhaan Allah tidak terlepas dari keridhaan orangtua”. Jadi, setelah membaca sms itu aku bertambah semangat  untuk membuat karya. Walaupun karyaku belum bisa terbit di majalah atau menjadi sebuah buku aku tetap berkarya.

Karena inspirasi bisa datang dari mana saja maka tidak ada alasan tidak punya bakat. Asalkan ada kemauan pasti bisa.

***
Inspirasi Akhir Tahun 


            Bulan Desember 2010 terbilang amatir untuk dikatakan sebagai penulis. Diawali dengan ajakan teman menghadiri kegiatan FLP (Forum Lingkar Pena) yang baru saja di bentuk di Manado, tempatku merengkuh ilmu. Sebenarnya aku datang ke sana sekedar memperluas jaringan dan mengisi waktu luang semester yang lagi lowong. Hari itu Sabtu bertempat di Mesjid Ahmad Yani Manado aku dan teman-teman duduk setengah lingkaran. Hanya dengan senyum aku menyapa akhwat-akhwat yang duduk rapat dengan kerudung yang menutupi dada. Walaupun belum berkenalan secara langsung sebenarnya aku sudah beberapa kali berpapasan dengan mereka di mesjid kampus.

            Pemimpin yang dipercayakan dari pusat untuk mengembangkan FLP yang masih bayi ini adalah Bachtiar Effendy alias Kak Tiar. Beliau mengajak kami berkenalan lebih dulu dengan menyebutkan nama, alamat, kesibukan, awal mula menulis,  dan karya yang telah dihasilkan atau yang sudah penah publis di media. Kami hanya tergeleng-geleng saling memandang. Sepertinya yang kupikirkan sama dengan yang dipikirkan teman-teman. Boro-boro punya karya, menulis saja aku merasa gak punya bakat.

            Cukup banyak karya yang dihasilkan dan beberapa karya beliau pernah diterbitkan oleh media lokal di Manado. Beliau juga sudah sejak SMP memulai menulis. Aku merasa kucil tapi itu tidak membuatku sampai ciut. Aku memang termasuk orang yang sangat suka tantangan. Semakin merasa sulit semakin cepat minatku tumbuh untuk menundukkannya.

            Saat itu aku bilang saja karya yang pernah kubuat dan belum pernah di terbitkan adalah diariku. Aku mulai menulis saat di sekolah menengah, itupun karena ada tugas dari guru Bahasa Indonesia. Menulis diari juga hanya kulakukan saat SMA, setelah kuliah aku tidak pernah lagi membuat cerpen atau melanjutkan hobiku menceritakan hari-hariku di lembar diari. Ternyata aku tidak sendiri, rata-rata teman yang datang yang seluruhnya akhwat kecuali Kak Tiar boleh dibilang masih awam dalam menulis. Tapi yang membuatku kagum adalah semangat yang mereka punya untuk menjadi penulis.

            Aku ingat saat itu kak Tiar bertanya tentang motivasi kami datang ke FLP. Aku menjawab untuk menambah pengalaman. Ada yang menjawab ingin memberi manfaat kepada orang lain lewat tulisan, ada pula yang ingin menjadi dikenal lewat tulisannya. Yang membuatku terhenyak adalah motivasi Kak Tiar yang ingin menjadi prajurit dakwah lewat pena. Ya, sangat tepat untuk berdakwah salah satunya bisa dilakukan lewat tulisan. Bayangkan berapa banyak amal jariah jika tulisan kita dibaca oleh orang lain dan bisa membawa manfaat untuknya. Aku juga mengingat kata salah seorang terdekat nabi, Ali Bin Abi Thalib, menyatakan “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Ya itulah yang menjadi mottoku dalam menulis sampai saat ini. Selain untuk menjadi prajurit dakwah lewat penaku (mengikut istilah yang dipakai kak Tiar), aku juga ingin mengikat ilmu seperti yang di nyatakan suami putri Rasulullah, Fatimah.

            Dari perkataan beliau-beliau tersebut lah aku mulai melekatkan penaku dengan menulis cerpen dan beberapa artikel walau belum ada yang berhasil terbit di media. Dalam kegiatan ini juga kami langsung dilatih menulis. Kak Tiar memberi waktu 15 menit untuk membuat tulisan dengan tema “Mesjid”. Aku kewalahan mencari ide untuk memulai tulisan, meneruskan dan mengakhirinya. Aku belum paham bagaimana menulis sistematis. Hasilnya tulisanku tidak fokus, judulnya apa isinya lari kemana, membingungkan pembaca, sebagai penulis pun bingung. Tapi bukan aku namanya kalau berhenti sebelum memulai. Aku tidak akan berhenti jika belum mahir.
            Dari forum itulah aku mulai menemukan kegiatan baru yang bisa mengisi waktu kosongku. Daripada menghabiskan dengan obrolan yang sia-sia, sejak saat itu aku memilih menulis. Aku mulai membaca novel yang mengispirasi, buku-buku dan  artikel untuk menambah kosa kata dan mempelajari cara penulis hebat memulai dan mengakhiri tulisan. Karena itulah yang menurutku paling sulit untuk membuat tulisan.

Dari membaca, aku mendapatkan kata-kata inspiratif dari seorang penulis dengan nama pena Kinoysan, dalam bukunya Jadi Penulis? Gampang Kok, beliau menyatakan “SIAPAPUN BISA MENULIS! Termasuk KAMU!” melalui kata-katanya aku takjub, dia seakan hadir di hadapanku dan mengajakku untuk menjadi seorang penulis. Aku membayangkan bagaimana jika aku diposisinya sebagai penulis dan berhasil mengajak seseorang untuk menulis dan mengikuti saran-saran yang kusampaikan, tentu sangat bahagia rasanya. Aku ingin seperti itu. Walau tidak bertemu bahkan tak saling mengenal, aku bisa mengajak seseorang berbuat baik melalui tulisan.

Karya pertama yang kutulis dan dibedah dalam Forum Lingkar Pena bersama sahabat-sahabat baru yang juga berminat menulis adalah Ibu untuk Ida. Tulisanku dikritik habis-habisan tanpa ampun. Tidak fokus lah, terlalu banyak konflik yang ingin kutuangkan, penggunaan tanda koma yang tidak sesuai, tidak ada klimaks (ceritanya datar-datar saja), endingnya tidak pas, sampai pemilihan diksi yang kurang sesuai. Dalam hati aku mendongkol, memang bicara gampang tapi membuat karya itu sangat rumit. Mengakhiri pertemuan Kak Tiar memberikan penyejuk hati “Kita sama-sama belajar dan semua masalah yang Lia hadapai adalah  wajar bagi penulis pemula”. Yang harus kulakukan adalah banyak belajar dan berlatih. Sepatah dua patah kata sudah cukup untuk membuatku tak berkecil hati. Dan yang kurasakan kritikkan itu sangat manjur dalam menumbuhkan semangat untuk menulis karya baru lagi.

..............(Ham Haazimah)..............
Kubaca lagi untuk melumerkan sendi yang beku menulis.

Senin, 25 April 2011

ALHAMDULILLAH TELAH TERBIT BUKU KITA :

SEPUCUK SURAT UNTUK RASULULLAH
Harga   : 39.900
Penulis : Ady Azzumar, Endang SSN, Hylla Shane Gerhana, Naqiyyah Syam, dkk
Kata Pengantar : Sinta Yudisia
Editor : Emzy Azzam
Desain Sampul : Akhi Dirman Al-Amin
Pemeriksa Aksara : Dudy Art
Cetakan 1 : April 2011

Endorsment:
"Setiap kali menelisik karya anak FLP, saya senantiasa menemukan semangat, cinta dan dakwah yang tinggi. Semuanya berawal dari ketulusan dan keikhlasan berkarya, mengabdi dan demi mencerahkan ummat. Maka, buku inipun telah mencakup semuanya itu. Salam Kreatif dalam Cinta dan Dakwah!"(Pipiet Senja, novelis asli Sumedang)

Testimoni:
Subhanallah... Allahummasholli ala muhammad.... membaca buku ini membuat saya 'panas dingin'.. laksana jatuh cinta pada pandangan pertama...Romantis luar biasa... seakan menikmati pemandangan Alam yang mempesona... terimakasih untuk para penulis yang berhati romantis menuliskan kalimat yang membuat saya makin cinta pada sosok rosulullah... Anda yang belum baca... segera dibaca deh... maka akan anda rasakan atmosfer keindahannya... dan saya yakin.. anda akan terjangkit penyakit "Romantisme mencintai Rosulullah" karena saya sudah terkena dan tak ingin sembuh olehnya...

Bang Dillah 'Habeeb'
MC, Penyiar Radio, Personil Nasyid Senandung Hikmah.

Kata Pengantar
Oleh: Sinta Yudisia 

penulis ini adalah Nama FB bukan nama di daLam buku:

1.      Endang Ssn
2.     Nurlaili BrSembiring
3.      Syaque Hikaritokusaikizoku Elsheeraknightvanrijkdom
4.      Ragil Papa Aira
5.      Imam Apriansyah
6.      Rafif Amir Ahnaf
7.      Hylla Shane Gerhana
8.      Niken Prawesthi  
9.      Asni A Sueb Aan
10. Fitri Bundanya Elfad  
11.   Inggar Ash
12.    Anas Nasrudin
13.   Revika Rachmaniar
14.  Lisfatul Fatinah Munir
15. Rofi' Maryam
16.   Rahman Hanifan Semakin Dahsyat
17.  Tri Lego Indah
18.  Akhwatul Chomsiyah Firdausa  
19.     Rosella Asy-syams
20.  Yandigsa Saja
21. Suden Basayev  
22.   Rurin Kurniati
23.  TeLaga Mega Cynthia
24.  Aisyah Al Farisi
25.   Yully Riswati  
26.   IsLami Dina 'Poe'
27.  Muhammad Irfan Abdul Aziz
28.   Artineke A Muhir   
29.   Maryam Zakaria
30.  Nur Hidayati
31. Naqiyyah Syam Full
32.   Milda Solihin
33. Huriyah Riza Almusyarofah
34.   Fiani Gee
35.  Puput Ariatna
36. Faiz Ezra
37.   Mata Pena
38.    Mieny Angel
39. Syari VaQoth
40.  oleh
41.  Fagaz Zhi
42. Kurotul 'Aeni
43. Nur Imamatul Choir
44.    Rosintan Hasibuan  
45.   El Kinanti
46.   Sofi Bramasta
47.   Isti Subandini
48.  Hamliati Musta  
49.   Akh Mul
50.   Mas Adi III
51.  Alfi Anafidah
52.   LiNa Astuti
53.  Khairus Syifa   
54. Cak Ndor
55. Ady Azzumar "_"


yang mau pesan langsung ke penerbit : http://www.facebook.com/inzpirazone

Rabu, 16 Februari 2011

RENJANA IBUMU

Renjana  Ibumu

Saat kalap menyeruak
Pandanglah gurat wajahnya lekat
Saat luka menyibak
Senyum tulusnya merekat

Dia lahir untuk melahirkanmu
Walau ngilu merebak
Peluhnya menghapus keluhmu
Walau kadang kau menjadi pencacak

Kau mencak dia adalah penyejukmu
Kau menceng dia meratap
Menyalahkan diri untuk hilafmu
Memikirkanmu dalam terjaga dan lelap

Tak sulit meredam kecamuk di hatinya
Mudah olehmu menyunggingkan senyum
Karena kau sumber bahagia dan gelisahnya
Di atas suksesmu peliknya redam

 Oleh: Ham Haazimah

Senin, 14 Februari 2011

DUADUA AKU CINTA MUHAMMAD

Duadua Aku Cinta Muhammad

Kumeringkuk sendu dalam teduh menyelami sirah tauladan umat

Diantara bukit beliau dihardik disitulah ia bertahan mendidik 

.Menahan lemparan cacian dengan kelapangan 

Menahan lemparan batu dengan pelipis

Jika bukan karena cintanya maka luluk lantah penghuni lembah

Jika bukan karena cintanya kutakkan mengenal cinta

Cintaku yang kedua hanya untukmu, Muhammad

Ham Haazimah

(14 Februari 2011)

Sabtu, 29 Januari 2011

Rengsa

Kau merajut
Dia menyirat
Kau bilang aku bidai rotan
Dia Bilang aku tali jala

Katamu kumuh
Dia lusuh
Kau telak
Dia delik  

Kau dan dia remah
suara lesut kalian pecah
Terbit atau terbenam
Sepertinya remuk redam  

Kau dan dia satu
Bagai raja dan ratu
Hendak mengopak-apik
mengais aku dalam pelik

Sudilah diri berlepas
Ku hendak berkemas
Kau dan dia menyesakku
Biarkanlah aku menapak jalanku 

by: Ham Haazimah
(31 Januari '11)

***
Puisi untuk dibukukan di Rumah Puisi