INSPIRASIKU MENULIS
Inspirasi menulis bisa berasal dari mana saja. Termasuk orang yang paling dekat dengan keseharian kita.
Sms dari Mama menjadi gerimis dalam hatiku. Gerimis itu pula yang menumbuhkan pohon yang akarnya mencokol yang akan tumbuh menjadi pohon tangguh seperti pohon jati dan menghasillkan karya sebagai buahnya karena langsung menyerap hara dari darahku. Aku tidak menyangka mamaku mendukung keinginanku. Awalnya aku hanya sekedar meminta tanggapannya tentang karya pertamaku, beliau memberi banyak masukan dan mendorongku untuk membuat karya lagi. Karena itulah beliau, asalakan baik dan benar dia tidak ragu memberi dukungan penuh padaku. Yang kutahu “Keridhaan Allah tidak terlepas dari keridhaan orangtua”. Jadi, setelah membaca sms itu aku bertambah semangat untuk membuat karya. Walaupun karyaku belum bisa terbit di majalah atau menjadi sebuah buku aku tetap berkarya.
Karena inspirasi bisa datang dari mana saja maka tidak ada alasan tidak punya bakat. Asalkan ada kemauan pasti bisa.
***
Inspirasi Akhir Tahun
Bulan Desember 2010 terbilang amatir untuk dikatakan sebagai penulis. Diawali dengan ajakan teman menghadiri kegiatan FLP (Forum Lingkar Pena) yang baru saja di bentuk di Manado, tempatku merengkuh ilmu. Sebenarnya aku datang ke sana sekedar memperluas jaringan dan mengisi waktu luang semester yang lagi lowong. Hari itu Sabtu bertempat di Mesjid Ahmad Yani Manado aku dan teman-teman duduk setengah lingkaran. Hanya dengan senyum aku menyapa akhwat-akhwat yang duduk rapat dengan kerudung yang menutupi dada. Walaupun belum berkenalan secara langsung sebenarnya aku sudah beberapa kali berpapasan dengan mereka di mesjid kampus.
Pemimpin yang dipercayakan dari pusat untuk mengembangkan FLP yang masih bayi ini adalah Bachtiar Effendy alias Kak Tiar. Beliau mengajak kami berkenalan lebih dulu dengan menyebutkan nama, alamat, kesibukan, awal mula menulis, dan karya yang telah dihasilkan atau yang sudah penah publis di media. Kami hanya tergeleng-geleng saling memandang. Sepertinya yang kupikirkan sama dengan yang dipikirkan teman-teman. Boro-boro punya karya, menulis saja aku merasa gak punya bakat.
Cukup banyak karya yang dihasilkan dan beberapa karya beliau pernah diterbitkan oleh media lokal di Manado. Beliau juga sudah sejak SMP memulai menulis. Aku merasa kucil tapi itu tidak membuatku sampai ciut. Aku memang termasuk orang yang sangat suka tantangan. Semakin merasa sulit semakin cepat minatku tumbuh untuk menundukkannya.
Saat itu aku bilang saja karya yang pernah kubuat dan belum pernah di terbitkan adalah diariku. Aku mulai menulis saat di sekolah menengah, itupun karena ada tugas dari guru Bahasa Indonesia. Menulis diari juga hanya kulakukan saat SMA, setelah kuliah aku tidak pernah lagi membuat cerpen atau melanjutkan hobiku menceritakan hari-hariku di lembar diari. Ternyata aku tidak sendiri, rata-rata teman yang datang yang seluruhnya akhwat kecuali Kak Tiar boleh dibilang masih awam dalam menulis. Tapi yang membuatku kagum adalah semangat yang mereka punya untuk menjadi penulis.
Aku ingat saat itu kak Tiar bertanya tentang motivasi kami datang ke FLP. Aku menjawab untuk menambah pengalaman. Ada yang menjawab ingin memberi manfaat kepada orang lain lewat tulisan, ada pula yang ingin menjadi dikenal lewat tulisannya. Yang membuatku terhenyak adalah motivasi Kak Tiar yang ingin menjadi prajurit dakwah lewat pena. Ya, sangat tepat untuk berdakwah salah satunya bisa dilakukan lewat tulisan. Bayangkan berapa banyak amal jariah jika tulisan kita dibaca oleh orang lain dan bisa membawa manfaat untuknya. Aku juga mengingat kata salah seorang terdekat nabi, Ali Bin Abi Thalib, menyatakan “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Ya itulah yang menjadi mottoku dalam menulis sampai saat ini. Selain untuk menjadi prajurit dakwah lewat penaku (mengikut istilah yang dipakai kak Tiar), aku juga ingin mengikat ilmu seperti yang di nyatakan suami putri Rasulullah, Fatimah.
Dari perkataan beliau-beliau tersebut lah aku mulai melekatkan penaku dengan menulis cerpen dan beberapa artikel walau belum ada yang berhasil terbit di media. Dalam kegiatan ini juga kami langsung dilatih menulis. Kak Tiar memberi waktu 15 menit untuk membuat tulisan dengan tema “Mesjid”. Aku kewalahan mencari ide untuk memulai tulisan, meneruskan dan mengakhirinya. Aku belum paham bagaimana menulis sistematis. Hasilnya tulisanku tidak fokus, judulnya apa isinya lari kemana, membingungkan pembaca, sebagai penulis pun bingung. Tapi bukan aku namanya kalau berhenti sebelum memulai. Aku tidak akan berhenti jika belum mahir.
Dari forum itulah aku mulai menemukan kegiatan baru yang bisa mengisi waktu kosongku. Daripada menghabiskan dengan obrolan yang sia-sia, sejak saat itu aku memilih menulis. Aku mulai membaca novel yang mengispirasi, buku-buku dan artikel untuk menambah kosa kata dan mempelajari cara penulis hebat memulai dan mengakhiri tulisan. Karena itulah yang menurutku paling sulit untuk membuat tulisan.
Dari membaca, aku mendapatkan kata-kata inspiratif dari seorang penulis dengan nama pena Kinoysan, dalam bukunya Jadi Penulis? Gampang Kok, beliau menyatakan “SIAPAPUN BISA MENULIS! Termasuk KAMU!” melalui kata-katanya aku takjub, dia seakan hadir di hadapanku dan mengajakku untuk menjadi seorang penulis. Aku membayangkan bagaimana jika aku diposisinya sebagai penulis dan berhasil mengajak seseorang untuk menulis dan mengikuti saran-saran yang kusampaikan, tentu sangat bahagia rasanya. Aku ingin seperti itu. Walau tidak bertemu bahkan tak saling mengenal, aku bisa mengajak seseorang berbuat baik melalui tulisan.
Karya pertama yang kutulis dan dibedah dalam Forum Lingkar Pena bersama sahabat-sahabat baru yang juga berminat menulis adalah Ibu untuk Ida. Tulisanku dikritik habis-habisan tanpa ampun. Tidak fokus lah, terlalu banyak konflik yang ingin kutuangkan, penggunaan tanda koma yang tidak sesuai, tidak ada klimaks (ceritanya datar-datar saja), endingnya tidak pas, sampai pemilihan diksi yang kurang sesuai. Dalam hati aku mendongkol, memang bicara gampang tapi membuat karya itu sangat rumit. Mengakhiri pertemuan Kak Tiar memberikan penyejuk hati “Kita sama-sama belajar dan semua masalah yang Lia hadapai adalah wajar bagi penulis pemula”. Yang harus kulakukan adalah banyak belajar dan berlatih. Sepatah dua patah kata sudah cukup untuk membuatku tak berkecil hati. Dan yang kurasakan kritikkan itu sangat manjur dalam menumbuhkan semangat untuk menulis karya baru lagi.
..............(Ham Haazimah)..............
Kubaca lagi untuk melumerkan sendi yang beku menulis.