Sabtu, 29 Januari 2011

Rengsa

Kau merajut
Dia menyirat
Kau bilang aku bidai rotan
Dia Bilang aku tali jala

Katamu kumuh
Dia lusuh
Kau telak
Dia delik  

Kau dan dia remah
suara lesut kalian pecah
Terbit atau terbenam
Sepertinya remuk redam  

Kau dan dia satu
Bagai raja dan ratu
Hendak mengopak-apik
mengais aku dalam pelik

Sudilah diri berlepas
Ku hendak berkemas
Kau dan dia menyesakku
Biarkanlah aku menapak jalanku 

by: Ham Haazimah
(31 Januari '11)

***
Puisi untuk dibukukan di Rumah Puisi

Selasa, 25 Januari 2011

Saling Memakmurkan dengan Mengalihkan Bajet Belanja



Jika kita berjalan menyusuri ibu kota, maka yang lekat di depan mata adalah gedung-gedung tinggi, pusat perbelanjaan yang megah, tempat hiburan dan bangunan-bangunan pencakar langit. Entah ini suatu kemajuan untuk bangsa Indonesia atau sebagai topeng yang menyembunyikan wajah anak-anak yang busung lapar meninggal diantara berjamurnya rumah makan, wajah memelas menadahkan tangan di setiap sudut pusat belanja, atau wajah resah bapak ibu yang kehilangan pekerjaan diantara gedung-gedung yang menjulang tinggi. Ku takut semua hanya topeng, mengantar masyarakat golongan tertentu larut dalam kenyamanan diantara penderitaan saudaranya.


Kenyamanan atau kesenangan yang menjadi poin pembahasan penulis adalah belanja, Jika kita perhatikan sekarang ini pusat belanja menjadi tempat favorit dari anak-anak sampai dewasa. Bukan hal yang wah lagi jika kaum hawa atau yang kebanyakan ibu-ibu pulang dengan tumpukan kresekan yang berisi hasil belanja, ada karena alasan butuh, diskon, takut kehabisan, ikut-ikutan, atau hanya untuk memenuhi kepuasan batin yang tidak lain adalah nafsu. Sebagian besar barang yang dibeli bukan merupakan kebutuhan mendesak dan yang paling menyedihkan lagi jika barang yang dihabiskan dengan uang yang tidak sedikit itu hanya dijadikan pajangan tanpa manfaat yang berarti. Sungguh miris dengan kehidupan saudara kita yang mungkin untuk makan sekali sehari saja harus terluntah- luntah bekerja. Mari kita renungkan bukan untuk sejenak.



Melihat dari pertumbuhan belanja sehari-hari yang meningkat dari 4,7 % di tahun 2009 menjadi 9% di Mei 2010, sekitar 44 triliun, banyak pendapat menyatakan Indonesia tidak terpengaruh oleh krisis global dan hal itu menunjukkan kondisi perekonomian nasional yang stabil, tetapi bukankah itu justru menunjukkan bangsa kita tidak peduli atau sama sekali tidak tahu terhadap isu global yang penting tetap belanja meskipun saku menipis tanpa memperdulikan kesusahan saudara yang masih mengganjal kerikil di perut karena belum mendapat uang untuk makan atau tidak mendapatkan tempat di bumi Allah untuk sekadar melebarkan tenda, tempat melepas peluh. Bukan karena mereka malas, tetapi jasa mereka yang dibayar recehan untuk membeli barang mewah dengan dolaran. Memang wah, sepertiya saling peduli, saling meringankan beban dan sikap zuhud (menjauhi hal bersifat duniawi, materi) yang diajarkan pendahulu kita telah bergeser 180 derajat.


Bagaimana jika uang yang dihabiskan untuk membeli kepeluan yang tidak mendesak kita alihkan untuk orang lain yang lebih membutuhkan? Bukankah akan lebih bermanfaat. Bukan hanya topeng yang melapisi kerutan wajah bangsa dengan kemegahan gedung-gedung yang menjulang tetapi akan muncul banyak wajah yang tidak lagi terisak hidup di negerinya sendiri. Kehidupan yang saling memakmurkan, saling mengasihi dan tidak saling sikut. Indonesia yang kan tampil dengan pribadi hemat terhadap dirinya namun dermawan kepada orang lain, dimulai dari menekan nafsu terhadap barang yang tidak perlu. Mulai dari diri sendiri.


Jadi, Jika ditanya soal impian, itulah impianku. Untuk lima tahun kedepan berharap negeri ini dapat saling memakmurkan dengan mengalihkan bajet belanja kepada yang membutuhkan agar tidak ada lagi mata yang berkaca-kaca diantara kesenangan, tidak ada lagi perut yang kenyang diantara yang lapar, tidak ada lagi orang yang berilmu diantara orang yang bodoh.


(25 Januari 2011)
***
by: Ham Haazimah
(Tulisan ini diikutkan dalam lomba "Impian 5 Tahun kedepan_Mujahid Muda Mumu")


yang ingin ikutan klik di link:
http://ceritalensa-mujahidmuda.blogspot.com/2010/12/mumu-writing-contest-2010.html

Jumat, 21 Januari 2011

KERING DIATAS MATA AIR

Dedaunan mengering di musim basah
Menyuarakan dahaga di atas mata air
Derasnya batang air menerjang tebing – tebing
Dia pohon, masih merontah kekeringan

Ikan – ikan penghuni kerajaan air
Memperlihatkan cahaya dari sudut bibir
Mungkinkah ia tersenyum bahagia
Atau sedang menggoda pohon

Gerimis memecah kesunyian
Menari – nari diatas helai dedaunan
Dia pohon, skali lagi tak merasa
Gemuruh angin yang mulai lenyap

Pohon tangguh merontah rebah
Membendung derasnya sungai
Terbawa arus dan gemuruh bayu
Hingga menepi ke hulu

by: Ham Haazimah
(Desember '10)

***
Puisi ini dan cerpen "Rumah Idaman Reno telah diikutkan dalam lomba JUARA Taman Sastra.

Rumah Idaman Reno

RUMAH IDAMAN RENO

 “No’, Reno, Nak, kapan mau balik ke Indonesia?”

“Ibu sudah kangen sama kamu Nak?” (suara ibu bergetar di telpon)

“Iya Bu, nanti, belum saatnya, nanti.” (jawabku malas)

“Nak, Bu Hj. Niswan dah punya cucu loh”, “kapan kamu nyusul ? Ibu sudah pingin skali punya cucu dari kamu Nak.”

”Bu, Reno belum ….”

 “Nak, ibu punya kenal…..” tut…tut…tut…tut…. “Reno, hallo….hallo…..”

Hampir tiap pagi aku dibangunkan dengan telepon yang sama, dengan pertanyaan yang itu – itu saja. Setelah menyelesaikan studi, sebenarnya aku berniat  pulang ke kampung halaman, membuka usaha showroom disana. Namun tawaran pekerjaan yang menarik, fasilitas canggih dan tempat hiburan yang komplit di Tokyo seakan membuat otak lupa untuk sekedar menelpon, menanyakan keadaan keluarga di kampung, apalagi  untuk pulang. Gelar S1 yang kudapat dari Universitas Pertanian dan Teknologi Tokyo, Teknik Sistem Mesin, menjadikan aku cukup mapan  untuk menjalani hidup disini. Walau sebenarnya dari lubuk hati, aku sudah sangat rindu berkumpul dengan keluarga di rumah.

Usiaku hampir genap 27 tahun saat ini. Kalau dilihat dari umur dan pendapatan, sudah saatnya bagiku untuk mencari pendamping hidup.  Sebenarnya, menikah sekarang atau lima tahun lagi bukan masalah bagiku. Namun bisa menjadi masalah besar bagi ibu yang sudah sangat menginginkan cucu dariku. Banyak Wanita cantik setengah telanjang yang siap diajak semalaman suntuk disini, namun wanita muslimah yang ingin kujadikan ibu untuk anak – anakku masih belum kutemukan.

***

Akhirnya, bujukan ibu untuk mengajakku pulang dan mencari seorang gadis Indonesia kuturuti. Meski harus setengah beradu argumen dengan ibu. Kamis, pesawat tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta pukul 17.45, sesuai dengan yang dijadwalkan. Aku memutuskan menginap semalam di hotel yang tidak jauh dari stasiun sebelum melanjutkan kembali perjalanan kereta menuju  Bandung, kampung halaman, besok pagi.

“Alhamdulillah, sampai juga di stasiun” (kata pertama setelah keluar KA Argo Parahyangan, tepat pukul 09.20.)

Saat keluar dari stasiun, dua bola mataku mencari – cari wajah yang kukenal. Kuselidik satu – persatu sudut depan stasiun.

“Pak,,, mikro, Pak?”

“Taxi, taxi, pak?”

“Pak, kemana Pak?”

“Ayo Pak, ayo ke taxi saya saja”

Pertanyaan  silih berganti dari supir di stasiun membuatku pusing. Belum lagi, isi perutku yang seakan ingin menyembur keluar. Untunglah aku segera bertemu dengan Ali, kakak tertuaku. Kami berpelukan, erat sekali, melepas kerinduan.

“Mana ibu, pak bos?” (tanyaku pada Kang Ali)

“Ibu masih di jalan, sepertinya mobil yang ibu tumpangi mogok”

“Hayoo, pasti ini Tian dan Bella. Halo, ponakan om yang pintar, ayo salaman dengan om” (menunjuk kearah dua bocah yang lucu dan gempal, bersembunyi malu – malu di balik tubuh Kang Ali)

Tidak lama kemudian,

“Reno, Nak, anakku, itu anakku yang dari Tokyo.” (suara ibu nyaring memanggilku dari kejauhan, membuat seluruh mata di Stasiun Bandung melihat momen pertemuanku dengan Ibu). “Reno, No’, anakku” (kata itu terus ibu ulangi, sambil menghapus airmata)

Kedua tangan ibu terus menggenggam tanganku, seakan tidak ingin berpisah lagi. Letak rumah yang jauh dari stasiun membuat badan pegal – pegal di perjalanan, tetapi mataku tak bisa tertutup sedetikpun. Sepertinya aku rindu melihat pemandangan kampung halaman yang sudah cukup lama kutinggalkan. Sampai di rumah, ternyata sudah banyak yang menyambut kedatanganku. Hanya beberapa kerabat dekat yang ku kenal.

“Nak, ini Lina anak Bu Laras, dia bidan loh di kampung ini” (kata ibu sambil semeringah, saat mulai mengenalkanku dengan satu persatu gadis belia yang bertamu ke rumah). “Lina, ini Reno, anak bungsuku dari Tokyo”. “Nak kalau ini Bu Ratih, yang duduk di kursi sana, anaknya Wiwin”. “kalau ini,,,,,”

Belum sempat ibu bicara lagi, aku langsung kabur ke kamar.

“baru datang saja program ibu sudah jalan, bagaimana kalau seminggu, mungkin dah punya istri dua kali ya” (kataku sambil nyengir)

Aku tertidur lelap sekali, mungkin karena kelelahan. Bangun pagi, di atas meja sudah ada secangkir kopi hangat ditemani aneka kue tradisional. Sungguh suasana yang sudah lama tidak kurasakan. Udara yang masih sejuk memanggilku untuk jogging memutari kompleks, sedikit menghangatkan badan. Aku merasa sedikit aneh, dipandangi gadis – gadis yang sedang menyapu halaman dan yang sedang bersiap – siap kekantor.

“Pria itu, anak Bu lani yang dari Tokyo ya?” (Tanya gadis berambut panjang lebat pada Wiwin, anak gadis Bu Ratih, yang dikenalkan ibu kemarin)

“Dia lagi cari gadis di kampung untuk dijadikan istri loh” (suara gadis – gadis berbisik). “Ayo, ayo, liat yuk”

“hai, Reno, watasi  Risma desu, he, he, he” (sapa salah seorang gadis asli pribumi dengan bahasa jepang)

Aku hanya membalas dengan senyuman, menunduk kembali.

“cewek - cewek ini ndak ada kerjaan lain ya.” (cemohku dalam hati, melihat gadis kampung yang ibu banggakan tak ubahnya wanita yang kutemui di Jepang)

***

Di meja makan, ibu telah menungguku dengan sepiring nasi goreng dan teh hangat.

“Nak, bagaimana? Enak kan masakan ibu?”

“Iya Bu, enak. Sudah lama tidak makan masakan ibu”

“Bagaimana tadi jogingnya? Dah dapat gadis yang pas belum?”

Belum sempat kujawab,

“Kalau yang kemarin ibu kenalkan, bagaimana?”

“Bu, Ibu, kalau jodoh ndak kemana”. “Masa cari jodoh kayak pameran, aku itu Bu mau mencari pasangan bukan cari pajangan” (kataku sambil geleng – geleng kepala)

“kamu mau cari istri seperti apa sih Nak?” (Tanya ibu penasaran). “Kelamaan memilih bisa – bisa ndak nikah nikah loh”

“ Reno ingin mencari istri yang seperti ‘rumah’ Bu” (jawabku, membuat ibu bingung)

“Rumah? Ada – ada saja kamu ini No’, masa cari istri kayak rumah” (kata ibu sambil tertawa ringan)

“Iya Bu rumah, rumah yang hanya untukku diberikan kuncinya, yang kan terbuka atau tertutup atas izinku, yang setia menungguku pulang, yang membuatku nyaman , yang menjadi tempatku pulang saat lelah, tempatku menghabiskan rasa duka dan citaku bersama anak – anakku nanti” (terangku)

“Iya Bu, seperti rumah ini yang selalu kurindukan di jepang sana. Meski aku tidur di apartemen mewah, tetap rumah sederhana ini yang kurindukan.” “Seperti itu gambaran wanita yang ingin kunikahi Bu” (tambahku memperjelas)

“ Nak, wanita seperti itu sulit kau temukan, apalagi di jaman kerlap – kerlip seperti ini.” “Di kampung saja jarang, kalau kau jodoh dengan rumahmu itu, pasti aku ibu sekaligus mertua yang paling bahagia” (sambil tersenyum menatapku)

“Ibu bisa saja, doakan ya Bu”


***End***
 by: Ham Haazimah
(Desember 2010)

Kamis, 20 Januari 2011

Semangat dari Mama

Lama berjalan kaki jadi letih
Lama berpikir otak jadi lelah
Lama tidur badan jadi kaku bangkit
Bergegaslah tatap masa depan yang ada dikejauhan
Yang tak dapat ditempuh dengan jalan kaki
Yang tak dapat diraih dengan berdiam diri

Selamat!! Buat karya-karya baru lagi…^^
(mama)

Semangat dari “mama”. Ku baru memulai menoreh titik di baris yang putih, dia sudah membelikan tinta emas buatku. Thank’s Ya Allah, mengirimkan Seorang penyejuk yang menyemangati langkahku, mendoakanku, mendukung jalan yang kupilih. Ku cinta “mama” karena Engkau, Allah SWT.


(21 Januari '11)

Rabu, 19 Januari 2011

Malam Abu - Abu

suara pecah meledak di malam pekat
pemandangan lekat yang berulang
kabur, pekat, menyengat
masih tenggelam dalam sesak

keluh bayi mungil redup
tertangguhkan euforia akhir masa
suara rentah terelakkan pekak
tak lagi kuasa gantungkan asa


harapan sakau diawang - awang
tersenyum membawa tuannya sujud
melupakan kiblat yang sesungguhnya
mengalahkan titah Pemberi ruh


bahagiakah raga setelahnya?
Damaikah kalbu yang t'lah menyusut?
kabur, pekak, menyengat
indera gusar tak lagi peka


by: Ham Haazimah
(1 Januari '11)


Menjemput Fajar

Air galau mencari tempat mengadu
Kehilangan wadah tuk berlindung
Mencari tuan yang sulit menampung
Saat pohon larut dalam perniagaan

Merapi beradu saling sikut
Menanti giliran jalankan amanah
Memupuk tanah yang tlah lama pilu
Tanah yang rindu dekapan abu

Biarlah luapan air sekedar bersua
Biarlah api menempa semangat yang tumpul
Biarlah  awan dingin menyejukkan kalbu
Biarkanlah kelam mengokohkan asa

Bukan  untuk kalut melainkan pecut
Bukan saatnya menyelam dalam ilu
Kini saat bergegas mengukir karya
Menampilkan kharisma pribadi istimewa
Menjemput era pembaruan

Untuk negeri  yang rindu pemimpi
Untuk tanah yang telah lama pilu
Untuk bumi Indonesia….

By : Ham Haazimah
(3 Januari 2011)

(Puisi ini InsyaAllah akan dibukukan dengan karya lainnya dalam antalogi puisi "Kado Untuk Indonesia")
 ....Alhamdulillah....

Selamat Jalan Sahabat

Rasa ini pernah ada sebelumnya
Diantara penantian yang membuncah 
Diantara wajah yang merona maju
Dia pergi, putih pasih... 
Lebih tiga tahun kita bersama
Masa yang mungkin tak layak  tuk bangun peradaban
Namun cukup tuk meninggikan Jati
Menyisipkan akarnya dengan mantap
Di hati kami, di hati seperjuanganmu
Mata ini tak sanggup mengantar pergi
Bibir ini beku tak berani bersua
Bukan mata yang lihai mengelabui
Bukan buah bibir yang lihai bersilat
Bukan fatamorgana....
Ini nyata..., Benarkah...?
Hati masih enggan
Namun Pemilik telah menyuarakan 
Suara yang jua kan kami sanggupi
Saat waktunya tiba

Selamat Jalan Sahabat
Selamat Jalan...
Senyum dan diammu kan kami rindukan

by:  Ham Haazimah
       (20 Januari '11)


***Untuk Sahabat '07***

Merindu “Sosok Terindah”

Tugas untuk mengisi liburan kali ini adalah membuat resume biografi tokoh yang dikagumi.

 “Waduh Yan, biografi ?”, “Mataku ndak mampu membaca buku ilustrasi, ndak ada gambarnya.” 

Yana hanya mengangguk, tersenyum,  tidak menjawab pertanyaanku. Kalau dipir-pikir, aku memang lebih sering mengeluh dibanding dia yang lebih banyak kesibukan. Selama hampir tiga tahun sebangku dengannya, aku tau dia pribadi yang istimewa. Banyak hal berbeda dari ucapan dan  lakunya yang membuatku bangga menjadi salah satu sahabatnya. Yana selalu berusaha menyelami ilmu, bukan hanya sekedar menghafal untuk nilai akhir yang sempurna. Pribadi yang mandiri, tidak ada keluh yang kudengar dari bibirnya, walaupun hampir setiap hari ia membawa gorengan yang dibuatnya sendiri untuk dijajakan di kelas. Disaat mode terbaru menjadi topik pembicaran hot, dia memanjangkan kerudungnya, mendekap telinganya untuk kata yang tidak manfaat. Memang Yana, sahabatku yang unik.

“Yan, Yana mau baca biografi siapa?” (tanyaku sambil melebarkan pupil)

“Siapa ya…? Belum terpikirkan sih…, Kalau Lia?”

“Mungkin presiden, Raden Kartini, Moh. Hatta atau siapa ya…?”,” Binguuuung ….”

“Lia, Aku duluan yah….Ayahku sepertinya sudah didepan”, “Assalamu’alaikum” (Yana pamit terburu - buru setelah menjabat erat tanganku).
***

Lebih dari sebulan berlibur, sudah tidak sabar rasanya ingin bertemu Yana dan teman – teman. Aku ingin tau biografi siapa yang mereka ulas. Beberapa teman sudah kutemui di Perpusda saat mengobrak – abrik buku, mencari tokoh yang dikagumi sampai mandi peluh.

“Lia, Lia…, lama ndak jumpa”  (sapa Yana dengan senyum khas, menyembunyikan setengah wajahnya dengan lengan jubah putih abu - abunya)

“Yana….” (sambil cium pipi kiri dan kanan)

Kami bercerita pengalaman liburan sampai suara Bu Tati, guru Bahasa Indonesia, terdengar mendekati ruangan. Nyaliku langsung menciut. Kuambil kembali resumeku, kubaca berulang kali, kuselidik satu persatu tanda baca yang mungkin terlewatkan. Yana terus tersenyum sendiri, entah apa lagi yang dipikirannya. Dia sama sekali tidak membaca ulang resumenya, memperlihatkan padaku pun tidak. Padahal kutau persis dia kesulitan dalam mengingat. Aku bertanya – Tanya dalam hati, sebenarnya siapa idolanya yang membuat dia begitu percaya diri, semeringah menunggu Bu Tati.

“Yan…, Aku lihat punyamu yah Yan…” (pintaku dengan wajah memelas, penasaran ingin membaca resume yang sejak tadi disimpan rapi di laci)

“Sabar…, sabar, nanti juga tau”

“huuu…,Einstein yah Yan? Atau Aktris?” (godaku sambil tertawa ringan)
***

Satu persatu dari kami mulai menceritakan tokoh yang dikagumi dengan berbagai macam ekspresi. Ada yang tersipu – sipu malu menceritakan biografi aktor korea yang dipujanya, ada yang berteriak – teriak menyuarakan kepahlawanan Soekarno, ada juga yang hanya sekedar lawak didepan kelas. Suasana kelas berubah pasar, Bu Tati pun ikut tertawa mengiyakan kami ngakak. Aku juga dapat bagian menjadi tontonan menggantikan papan tulis di depan. Karena aku dikenal agak pendiam di kelas, Teman – teman cuman nyengir, menahan – nahan udara di leher yang terperangkap, sisa kelucuan sebelumnya.

“Berikutnya, Herdayana” (nama terakhir yang dipanggil Bu Tati)

“Akhirnya….” (gumamku dalam hati)

Cerita tokoh sahabatku ini yang sebenarnya penasaran kutunggu. Yana diam beberapa menit, kami pun diam.

“Yana mau cerita biografi siapa?” (Tanya Bu Tati, membuatku yakin Yana lupa tentang isi biografinya)

Sepuluh menit berlalu,

“Beliau tidak tertawa kecuali sekedar tersenyum, bila kamu melihatnya, akan berkomentar mata beliau bercelak, padahal beliau tidak memakainya (HR. Tirmidzi hadits hasan)” (jawab Yana membuat kami bertanya – Tanya), “Beliau memiliki kepala, dua tangan dan kaki yang besar-besar, berwajah tampan, belum pernah kulihat orang seperti beliau sebelum dan sesudahnya menurut HR. Bukhari.”

“Dia adalah Muhammad, Rasulullah SAW, idolaku”

“Disaat pemuda seusianya sibuk berfoya – foya, Beliau memilih serius berdagang, hidup sederhana, menampilkan  kejujuran dan keluhuran budi.”

“Disaat semua mata disapu lelap, tidur nyaman dalam buaian, beliau terjaga. Merenung, menyepi di gua Hira, menunggu petunjuk dari sang khalik melalui Jibril. Petunjuk yang mengantar kita meneguk oase Islam.”

“Saat hidup diantara kaum yang menyembah berhala, Dia menyuarakan Islam. Naik ke puncak Shafa
berteriak memanggil kaumnya menyeru agar menyembah Allah yang Esa tanpa gentar dengan pedang yang sewaktu – waktu bisa melayangkan lehernya.”

“saat anak lelaki yang didambanya wafat diantara kaum Quraisy yang tertawa bahagia, beliau berkata ‘Air mata boleh mengalir, hati boleh sedih, tetapi lisan hanya boleh mengucapkan apa yang Allah ridho.”

“ Diasaat wafat beliau mewasiatkan Al-Qur’an dan Hadits sebagai pegangan. Bukan hanya untuk  istrinya, sahabatnya atau anak – anaknya, melainkan untuk seluruh umat, karena cintanya. Bukan emas yang ditimbun, istana yang berdiri megah, atau ladang berhektar – hektar beliau tinggalkan karena harta tidak akan memberi kecerahan hidup seperti yang diwasiatkannya (Al-Qur’an dan hadits). Terlebih beliau tidak menyimpan timbunan harta melainkan untuk dibagikan kepada yang membutuhkan.”

 “siapa lagi yang kiranya bisa menandingi Muhammad untuk diteladani, dijadikan idola.” (tambah Yana melanjutkan ceritanya dengan intonasi yang tidak biasa)

“…………….
Yana mendiskripsikan detil tentang idolanya, membuatku seakan – akan yakin ia pernah bertemu Muhammad. Sahabat yang kusangka pelupa ternyata jauh lebih tajam pemikirannya daripada aku. Disaat kami berpikir biografi tokoh idola pemimpin negara, ahli ekonomi, ilmuwan, tokoh pahlawan nasional, dia terpikir kepada Raulullah. Sosok pemimpin yang berjuang jiwa raga, membawa nikmatnya islam hingga sampai pada kami. Sosok yang ahli dalam bidang ekonomi, sekaligus sebagai ayah dan suami yang dicintai kelurganya.

 “Subhanallah, ….” (hanya itu ucap yang kulewatkan dikerongkonganku yang basah saat  mendengar getar suara sahabatku, Yana)

Cerita yang dikisahkan Yana membawa pikiranku melayang – layang. Kuaduk – aduk kembali otakku mengingat kata – kata yang sering kuanggap ocehan, ternyata ekspresi rindu yang dalam. Pujian sederhana namun terpatri kuat kekaguman melekat pada lakunya. Dilontarkan secara sederhana terhadap sosok terindah,  Yang kan menang telak, jika diadu dengan rindu belia yang memimpikan bertemu dengan aktor idolanya.

Dari warna kesukaan, makanan favorit, sejarah kelahiran, perjalanan hidup, hampir tidak terlewatkan.
***

Dalam lamunanku….

 “Yan, Yana ndak capek bawa gorengan tiap hari ke sekolah?”

“Yah, kalu capek sih capek. Tapi Semua karena tanggung jawab”, “setelah baliq aku merasa punya tnggung jawab terhadap kelurga dan biaya hidupku. “ (jawabnya serius, menyungkil salah satu mozaik di kalbu)

“Kamu ndak…

“Aku senang kok, mengerjakan tanggung jawabku sekaligus meniru kegemaran sosok yang kurindukan”. (jawabnya sambil senyum menandingi senyum monalisa)

“Iya Lia, idolaku adalah seorang pedagang, yang menjajakan barang dagangannya dari satu negeri ke  negeri yang lain sejak berusia 12 tahun.”

Kuterdiam, mencoba meraih – raih sosok “wah” yang  membuat sahabatku bahagia dengan bersusah – susah. Yang membuat dia rela menghabiskan separuh waktu santainya dengan tungku panas setiap hari. Sungguh semangat yang membuat hati iri. Miris dengan kehidupanku yang bahkan untuk sekedar membeli permen di warung harus merogoh saku  orangtua.

Tanpa kusadari banyak ilmu yang Yana bagikan padaku. Dari ungkapan – ungkapan tentang sosok yang ia rindukan, tanpa kusadari, tumbuh pula kekagumanku terhadap sosok yang dia sebut “my idol”, Rasulullah SAW.
***

 “Dia idolaku, sosok yang menjadi panutan hidup, pedoman bagi siapa saja yang mengaku islam. Kekagumanku terhadap sosok terindah, indah pemahaman, ucapan, dan lakunya, Rasulullah, Muhammad SAW” (kata Yana mengakhiri kisahnya dan lamunanku)
 
Merindu
Saat kebanyakan tubuh mengingsut dalam selimut malam

Titah sang Raja tak lagi terasa indah, malah menggidik 

 Masih  ada pasangan mata terjaga menghapus lelap

Teguh, tak terlenakan zaman

Merindu sosok yang terindah

Karena  Malik….

Karena Allah….

***end***
By: Ham Haazimah
(Lya_hup4thahirah@yahoo.com)

 Sumber inspirasi:
- 5% dari Kisah Renungan Inspiratif “Rasulullah
-20% dari ”Khadijah_The true Love Story of Muhammad” oleh Abdul Mun’im Muhammad
-75% dari saudariku Yana dan bumbu cerita penulis
Cerpen ini tidak sepenuhnya diangkat dari kisah nyata . Terdapat beberapa ide yang ditambahkan penulis untuk menguatkan isi cerita.
***
Spesial Thank’s to “Yana”
***

BUKAN ABIAN (FF Tentang Perjodohan)

“Shafa, tau ndak kalau orangtua Bian ingin meminangmu?” 

“haaaa…, ndak mungkinlah, Tante Sintya ada – ada saja.”

“beneran, coba tanya ibumu”, “tapi jangan sampe ibu kamu tau ya kalau tante yang bilang.”

“Haaaa…, ibuku setuju…?”

“Ibumu datang, ku off dulu telponnya ya…”

Kata – kata Tante Sintya cukup untuk menjadi kopi pahit menahan kantuk malam ini. Kebetulan besok ujian anatomi  jadi sekalian bisa begadang. Tentu saja bukan tumpukkan nama anggota tubuh dalam bahasa yunani yang masuk dalam otakku, tapi soal pinangan kak Bian yang duluan merasuk.

“Benarkah….”

“Mana kutau.”

“Sudah siap kah…?”

“Belum kamu masih ingusan”, “benaran deh, sama sekali belum siap.”

Malam ini Shafi datang lagi. Setiap aku berpikir serius, lagi pingin sendiri,  dia pasti datang mengacau. Teman Ilusiku ini sebaiknya kukunci dulu rapat – rapat dalam lemari, biar pengap sekalian.
***
Assalamualaikum ya Akhi ya Ukhti
Assalamu’alaikum ya Akhi ya Ukhti
salam salam hai saudaraku semoga Allah merahmatimu….
(alunan musik “Assalamualaikum” lagu Opick yang kujadikan nada panggilku)

“Assalamu’alaikum, halo, ini siapa ya?”

“ehm…, Waalaikum’salam, Ini betul nomornya Shafa?”

“Iya betul.”

“Ini Bian, maaf Shafa lagi sibuk ya?”

Dag…dig…dug….
Jantungku seakan ngedance. Kuatur nafas dan pikiranku yang mulai ngelantur.

“eh,,,iya, iya, ada apa ya Kak? Ada yang bisa kubantu.” (jawabku celingukan, berusaha menyembunyikan petasan yang sudah mulai mengasap)

“Shafa ndak lagi sibuk kan?”

“Tidak kok Kak, ada apa Kak?”

“Sebenarnya Kak Bian pingin minta tolong ma Shafa, boleh ndak?”

“Kalau saya bisa bantu, InsyaAllah saya usahakan.”

“Rencananya saya akan ke Semarang minggu depan, Shafa ada kenalan, tempat menginap beberapa hari sebelum Kak Bian dapat tempat ? ”

Sepertinya petasan sudah mutasi jadi bom. Aku menggenggam teleponku erat, berjalan memutar – mutar di dalam kamar kosanku yang luasnya kurang lebih 3×3 meter.

“Shafa, bisa tidak? Maaf, sebenarnya Kak Bian juga ndak enak merepotkan Shafa, apalagi Shafa pasti sibuk dengan kuliahnya.”

“eh,,,tidak Kak, ndak apa kok, Shafa juga lagi tidak ada jam kuliah, jadi banyak waktu luang. InsyaAllah nanti Shafa coba tanya ke teman - teman.” (Jawabku datar, mencoba meredam emosi yang sepertinya kurang berhasil)

“Makasih banyak ya Shafa, maaf sekali lagi merepotkan.”

“Iya, ndak apa, santai saja Kak.”
***

Tidak ada hal yang istimewa. Setelah selesai mengurus kerjaan, Kak Bian balik. Saat di Semarang, aku memutuskan untuk meminimalkan pertemuanku dengan Kak Bian, aku kurang pandai menutupi gerogiku, berpura – pura pikun tentang perjodohanku dengan Kak Bian.
***

Setelah hasil ujian keluar aku pulang ke kampung halaman, menghabiskan waktu liburan dengan keluarga tercintaku. Agak sedikit aneh, Tante Sintya yang selalu menjadi informan kemajuan perjodohanku dengan Kak Bian sudah tidak pernah lagi membahasnya
.
“Shafa, ayo nak, kita ke acaranya Dzaky  .”

“Iya Bu….”

Jalan menuju tempat pernikahan sudah tidak asing lagi, sepertinya tetangga Kak Bian yang menikah. Sesampaiku di pesta, aku terhentak kaget. Ternyata Dzaky itu Kak Bian, Dzakiyy Abian Hadim. Setelahnya baru kuketahui,  Kak Bian menolak perjodohan kami. Kak Bian sudah mempunyai pilihan lain. Pilihan terbaik untuk pendamping hidupnya.

“Semoga bisa menjadi keluarga yang mawaddah warahma, Kak Bian bukan yang terbaik untukku, Rencana Allah yang tidak akan pernah bisa kutebak.”
***end***
by: Ham Haazimah (18 Jan. '11)