Senin, 30 Januari 2012


Waktunya Kembali

        Manusia bertindak sesuai dengan pemikirannya. Jika anak-anak yang belum mengerti pisau diberi pisau maka dia bisa mengiris tangannya dan membuangnya setelah merasa itu sakit berbeda dengan anak yang sudah pernah menyimpan memori sebelumnya yang tentu berpikir seribu kali untuk menjadikannya sebagai mainan. Pemikiran atau persepsi seseorang dapat berubah sesuai informasi yang didapat. Jika sekuler telah membalut dan menjadi hal biasa dalam kehidupan tentu akan terilustrasi dari ucapan ataupun tindakannya.  Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita bertindak sesuai dengan Al-qur’an dan sunnah dengan mengambil secara utuh sebagai sumber dalam hidup yang datangnya dari Pencipta. Utuh tentu tidak sama artinya dengan sebagian-sebagian. Jika diibaratkan anda menanam “sebatang pohon rambutan” di halaman rumah tentu bukan hanya dengan memiliki batangnya lantas bisa dikatakan anda punya pohon rambutan. Jadi, disini kita bukan belajar tentang pars pro toto atau totem pro parte. 
  Peraturan Islam melingkup semua aspek kehidupan. Islam datang sebagai rahmatan lil alamin yakni rahmat bagi seluruh alam. Tentu saja jika sistem kehidupan islam yang kita maknai sungguh-sungguh dalam setiap sendi kehidupan maka akan mensejahterakan seluruh alam bukan hanya bagi umat muslim tetapi juga untuk non muslim. Seperti dalam sistem perekonomian. Walaupun pernah dipelajari di SMP sampai SMA kelas X sebenarnya saya tidak begitu paham tentang sistem perekonomian. Hal ini terjadi mungkin karena tidak peduli karena saya bukan anak IPS atau karena yang penting bisa terpenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga berarti perekonomian negara kita sehat, tanpa berpikir bagaiamana sistem ekonomi sekarang ini mensejahterakan umat atau malah melilit semakin sesak.

Mari kita telisik dari hal yang paling dekat dlm kehidupan sehari-hari, yakni alat tukar. Uang yang beredar di masyarakat tidak mencerminkan ekonomi yang riil. Uang kertas mampunyai nilai intrinsik (nilai bahan pembuat uang) yang sangat kecil dari nilai yang terlabel diatasnya. Berbeda dengan bahan uang emas (dinar) yang mempunyai nilai sesuai dengan bahan intrinsiknya dan tidak pernah mengalami inflasi. 1 dinar yang 1400 tahun lalu sama dengan daya tukarnya terhadap barang saat ini. Tidak seperti uang berlabel sekarang,  Uang Rp.250,- yang kita gunakan di tahun 98 untuk membeli Mie Instan tentu tidak bisa lagi dipakai saat ini. Uang Rp.25,- untuk membeli permen sudah tidak ada nilainya saat ini dan sudah ditarik dari peredaran. Semua itu karena inflasi.*

Pada tahun 1997, Indonesia terlihat jauh dari krisis, inflasi di Indonesia rendah, cadangan devisa luar biasa besar. Namun dengan melemahnya mata uang negara-negara Asia saat itu ditambah banyaknya utang perusahaan nasional dalam bentuk USD telah melumat kekuatan nilai rupiah hingga USD 1 = Rp.17.000,-. Saya ikut merasakan dampaknya. Saya ingat saat masih di Taman Kanak, saya tidak pernah bertanya kenapa susu kaleng bubuk yang biasa saya minum dua kali sehari berganti menjadi teh manis. Saya hanya lebih suka karena rasanya baru dan botol minuman yang menemaniku ke TK tidak begitu berbau karena sisa susu yang tersimpan lama.*

Seperti itulah yang terjadi, kita tidak akan pernah tahu kapan terjadinya inflasi. Belum lagi sistem riba yang semakin kondang dalam sistem ekonomi saat ini. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengutuk riba. Sudah tidak dapat dihitung lembaga atau individu yang meminjamkan uang dengan mencantolkan bunga saat dikembalikan. Dan ingatlah saudaraku bagi yang meminjamkan, peminjam dan saksi semuanya adalah berdosa. AStagfirullahal Adzim.

Pernyataan diatas bukan menjdaikan kita untuk mengeluh atau meratap atau hanya berdiam diri. Bukan untuk sekedar menunggu waktu yang tepat dan terjadi dengan sendirinya. Kita harus berjuang menyadarkan umat tentang pentingnya syariat, sistem yang pemikirannya dari Allah. Tentu saja sistem atau peraturan dari Allah akan mendatangkan berkah/ kebaikan dunia dan akhirat. (kita sama-sama belajar). 


*baca lengkap ttg dinar dlm buku "Think Dinar" karya Endy Kurniawan
Ctt: kita sama-sama belajar, tlg ingatkan ya kalau keliru. Kebenaran mutlak hanya milik Allah. :)

by: ham Haazimah

0 Comments:

Posting Komentar