Tidak sedikit berita tentang pelecehan terhadap kaum hawa, kekerasan dan segala bentuk penindasan terhadap sosok lembut yang seharusnya menjadi pendidik keluarga bermunculan di media cetak maupun media elektronik. Bahkan mungkin terjadi di sekitar kita. Seperti yang akhir-akhir ini marak di angkutan umum, kereta api listrik, seorang wanita dilecehkan beramai-ramai saat perjalanan menuju kantor di kawasan Tanah Abang. Naudzubillah min dzalik, perbuatan yang immoral tidak lagi malu dilakukan bahkan di tempat umum. Selain itu, kekerasan dalam rumah tangga baik dalam hubungan suami istri atau sebagai pembantu yang menjadi korban adalah pendamping Adam. Dan semua itu terjadi di negeri kita yang penduduknya mayoritas mengaku islam di kelurahan atau di catatan sipil.
Dalam islam tidak menghormati kesetaraan jender, wanita lebih baik mengurusi anak dan dapur daripada berkarir di luar rumah. Wanita adalah kaum lemah yang kedudukannya lebih rendah daripada pria. Bahkan ada yang mengaku islam tetapi mengagung-agungkan kelahiran anak lelaki dalam keluarganya daripada perempuan. Benarkah wanita adalah makhluk lemah jadi bisa dengan mudah dilecehkan? Bagaimana sebenarnya kedudukan wanita dalam islam? Benarkah kaum Adam lebih mulia dari kaum Hawa?
Pertanyaan muncul bisa karena kritis, menguji, atau ketidaktahuan. Jika, suatu perkara sudah jelas jawaban dan sumbernya maka bisa dianggap sebagai ketidaktahuan atau kebodohan. Dalam Al-Qur’an dan Hadis sudah dicantumkan secara jelas kedudukan pria dan wanita adalah sama. Bahkan Allah memberikan kemuliaan bagi wanita sehingga dia bisa mengandung dan melahirkan makhluk suci dari rahimnya.
Mari kita menilik sejarah, bagaimana pada masa jahiliyah kelahiran anak perempuan membawa murka bagi ayahnya. Anak perempuan lebih banyak di kubur hidup-hidup daripada ditimang. Dan seorang pria dlm adat jahiliyyah berhak menikahi berapa pun wanita yg diinginkan tanpa ada batasan dan tanpa memerhatikan hak-hak para istrinya. Sebelum kedatangan Islam yang diajakkan oleh Rasulullah seperti itulah mereka memperlakukan kaum yang bernama wanita. Hal ini juga yang terjadi pada bangsa Romawi di zaman kuno. Wanita dilecehkan, ditindas, dianggap layaknya seperti barang yang juga bisa diwariskan jika suaminya meninggal bukan sebagai penerima warisan. Masih banyak lagi fakta yang memaparkan pada zaman dulu wanita lebih rendah daripada pria bahkan tidak bernilai dan dianggap tidak memiliki ruh. Naudzubillah.
Bagaimana dengan Islam?
Kedatangan islam mengangkat derajat para wanita yang sama sekali tidak dianggap pada masa itu. Dalam surah An-Nahl ayat 97:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl : 97)
Dalam ayat ini Allah menyetarakan laki-laki dan perempuan. Tidak ada perbedaan antara keduanya. Hal serupa juga dijelaskan di surah Ali-Imran ayat 195. Jadi jika berteriak-teriak tentang emansipasi, sudah sejak dahulu Allah menyetarakan kedudukan antara kaum lelaki dan perempuan. Bahkan Allah menurunkan surah An- nisa yang berarti wanita atau perempuan.
Dalam surah An-Nahl ayat 58-59, Allah melaknat orang-orang yang mengubur anak perempuannya. Anak lelaki dan anak perempuan sama saja, keduanya adalah anugerah bagi kedua orangtuanya. Rasulullah sendiri selalu suka cita atas kelahiran anak-anak perempuannya di dunia. Tidak ada rasa sedih walau dihardik oleh kaumnya sebagai lelaki yang putus keturunannya karena tidak memiliki putra. Rasulullah dengan penuh cinta menyayangi anak perempuannya di tengah kaum yang menistakan perempuan. Beliau menyerukan seperti dalam hadis berikut:
“Barangsiapa yang memiliki anak perempuan dan tidak menguburkannya hidup-hidup, tidak mempermalukannya, dan tidak melebihhkan anak laki-laki atasnya, Allah akan memasukkannya ke dalam surga. “ (HR Ahmad no. 1957).[2]
Islam sangat memuliakan kedudukan wanita. Allah berfirman dalam surah lukman ayat 14 :
“Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (Lukman:14)
Dalam surah ini Allah memfirmankan bahwa ibu telah mengandung dan memberikan ASI selama dua tahun kepada anak-anaknya, maka manusia wajib berbuat baik kepada orangtua khususnya ibu. Dan yang dianugerahkan kemuliaan mengandung dan menyapih itu tentu saja kaum hawa. Rasulullah sendiri pernah ditanya tentang yang mana didahulukan berbuat baik kepada orangtua, dan jawabanRasulullah menyebut tiga kali nama ibu setelah itu ayah. Kemuliaan mana lagi yang kita cari dalam islam sebagai seorang wanita. Jika kita lebih banyak di rumah dengan melayani suami dan mendidik anak-anak, itu adalah tanggung jawab yang sangat besar dan karena kemuliaan yang diberi Allah-lah wanita bisa mengembannya.
Islam memuliakam wanita dengan cara tersendiri. Dengan cara unik yang membuat hati terpanah jika kita orang yang mau berpikir. Allah melindungi wanita agar jauh dari pelecehan seksual dengan memerintahkan menutup aurat dan tidak bercampur baur dengan pria. Allah menciptakan lelaki untuk melindungi wanita dan wanita sebagai makhluk yang lembut yang mampu menyenangkan hati pendampingnya. Wanita juga diberi karuania dengan kebahagiaan luar biasa menyaksikan kelahiran anak dari rahimnya. Karena wanita begitu berharga.
Karya ini telah diikutkan dalam IMM Islam dan Wanita

0 Comments:
Posting Komentar