Karya ini telah diikutkan dalam IMM Islam dan Wanita
Minggu, 15 Mei 2011
Betapa Islam memuliakan wanita
Karya ini telah diikutkan dalam IMM Islam dan Wanita
Diposting oleh Ham Haazimah Musta di 07.46 0 komentar
Rabu, 27 April 2011
INSPIRASIKU MENULIS
Diposting oleh Ham Haazimah Musta di 14.01 0 komentar
Senin, 25 April 2011


Diposting oleh Ham Haazimah Musta di 22.29 0 komentar
Rabu, 16 Februari 2011
RENJANA IBUMU
Diposting oleh Ham Haazimah Musta di 15.11 0 komentar
Senin, 14 Februari 2011
DUADUA AKU CINTA MUHAMMAD
Duadua Aku Cinta Muhammad
Kumeringkuk sendu dalam teduh menyelami sirah tauladan umat
Diantara bukit beliau dihardik disitulah ia bertahan mendidik
.Menahan lemparan cacian dengan kelapangan
Menahan lemparan batu dengan pelipis
Jika bukan karena cintanya maka luluk lantah penghuni lembah
Jika bukan karena cintanya kutakkan mengenal cinta
Cintaku yang kedua hanya untukmu, Muhammad
Ham Haazimah
(14 Februari 2011)
Diposting oleh Ham Haazimah Musta di 16.42 0 komentar
Sabtu, 29 Januari 2011
Rengsa
Kau merajut
Dia menyirat
Kau bilang aku bidai rotan
Dia Bilang aku tali jala
Katamu kumuh
Dia lusuh
Kau telak
Dia delik
Kau dan dia remah
suara lesut kalian pecah
Terbit atau terbenam
Sepertinya remuk redam
Kau dan dia satu
Bagai raja dan ratu
Hendak mengopak-apik
mengais aku dalam pelik
Sudilah diri berlepas
Ku hendak berkemas
Kau dan dia menyesakku
Biarkanlah aku menapak jalanku
by: Ham Haazimah
(31 Januari '11)
***
Puisi untuk dibukukan di Rumah Puisi
Diposting oleh Ham Haazimah Musta di 18.48 0 komentar
Selasa, 25 Januari 2011
Saling Memakmurkan dengan Mengalihkan Bajet Belanja
Jika kita berjalan menyusuri ibu kota, maka yang lekat di depan mata adalah gedung-gedung tinggi, pusat perbelanjaan yang megah, tempat hiburan dan bangunan-bangunan pencakar langit. Entah ini suatu kemajuan untuk bangsa Indonesia atau sebagai topeng yang menyembunyikan wajah anak-anak yang busung lapar meninggal diantara berjamurnya rumah makan, wajah memelas menadahkan tangan di setiap sudut pusat belanja, atau wajah resah bapak ibu yang kehilangan pekerjaan diantara gedung-gedung yang menjulang tinggi. Ku takut semua hanya topeng, mengantar masyarakat golongan tertentu larut dalam kenyamanan diantara penderitaan saudaranya.
Kenyamanan atau kesenangan yang menjadi poin pembahasan penulis adalah belanja, Jika kita perhatikan sekarang ini pusat belanja menjadi tempat favorit dari anak-anak sampai dewasa. Bukan hal yang wah lagi jika kaum hawa atau yang kebanyakan ibu-ibu pulang dengan tumpukan kresekan yang berisi hasil belanja, ada karena alasan butuh, diskon, takut kehabisan, ikut-ikutan, atau hanya untuk memenuhi kepuasan batin yang tidak lain adalah nafsu. Sebagian besar barang yang dibeli bukan merupakan kebutuhan mendesak dan yang paling menyedihkan lagi jika barang yang dihabiskan dengan uang yang tidak sedikit itu hanya dijadikan pajangan tanpa manfaat yang berarti. Sungguh miris dengan kehidupan saudara kita yang mungkin untuk makan sekali sehari saja harus terluntah- luntah bekerja. Mari kita renungkan bukan untuk sejenak.
Melihat dari pertumbuhan belanja sehari-hari yang meningkat dari 4,7 % di tahun 2009 menjadi 9% di Mei 2010, sekitar 44 triliun, banyak pendapat menyatakan Indonesia tidak terpengaruh oleh krisis global dan hal itu menunjukkan kondisi perekonomian nasional yang stabil, tetapi bukankah itu justru menunjukkan bangsa kita tidak peduli atau sama sekali tidak tahu terhadap isu global yang penting tetap belanja meskipun saku menipis tanpa memperdulikan kesusahan saudara yang masih mengganjal kerikil di perut karena belum mendapat uang untuk makan atau tidak mendapatkan tempat di bumi Allah untuk sekadar melebarkan tenda, tempat melepas peluh. Bukan karena mereka malas, tetapi jasa mereka yang dibayar recehan untuk membeli barang mewah dengan dolaran. Memang wah, sepertiya saling peduli, saling meringankan beban dan sikap zuhud (menjauhi hal bersifat duniawi, materi) yang diajarkan pendahulu kita telah bergeser 180 derajat.
Bagaimana jika uang yang dihabiskan untuk membeli kepeluan yang tidak mendesak kita alihkan untuk orang lain yang lebih membutuhkan? Bukankah akan lebih bermanfaat. Bukan hanya topeng yang melapisi kerutan wajah bangsa dengan kemegahan gedung-gedung yang menjulang tetapi akan muncul banyak wajah yang tidak lagi terisak hidup di negerinya sendiri. Kehidupan yang saling memakmurkan, saling mengasihi dan tidak saling sikut. Indonesia yang kan tampil dengan pribadi hemat terhadap dirinya namun dermawan kepada orang lain, dimulai dari menekan nafsu terhadap barang yang tidak perlu. Mulai dari diri sendiri.
Jadi, Jika ditanya soal impian, itulah impianku. Untuk lima tahun kedepan berharap negeri ini dapat saling memakmurkan dengan mengalihkan bajet belanja kepada yang membutuhkan agar tidak ada lagi mata yang berkaca-kaca diantara kesenangan, tidak ada lagi perut yang kenyang diantara yang lapar, tidak ada lagi orang yang berilmu diantara orang yang bodoh.
(25 Januari 2011)
***
by: Ham Haazimah
(Tulisan ini diikutkan dalam lomba "Impian 5 Tahun kedepan_Mujahid Muda Mumu")
yang ingin ikutan klik di link:
http://ceritalensa-mujahidmuda.blogspot.com/2010/12/mumu-writing-contest-2010.html
Diposting oleh Ham Haazimah Musta di 01.23 4 komentar
Jumat, 21 Januari 2011
KERING DIATAS MATA AIR
Dedaunan mengering di musim basah
Menyuarakan dahaga di atas mata air
Derasnya batang air menerjang tebing – tebing
Dia pohon, masih merontah kekeringan
Ikan – ikan penghuni kerajaan air
Memperlihatkan cahaya dari sudut bibir
Mungkinkah ia tersenyum bahagia
Atau sedang menggoda pohon
Gerimis memecah kesunyian
Menari – nari diatas helai dedaunan
Dia pohon, skali lagi tak merasa
Gemuruh angin yang mulai lenyap
Pohon tangguh merontah rebah
Membendung derasnya sungai
Terbawa arus dan gemuruh bayu
Hingga menepi ke hulu
by: Ham Haazimah
(Desember '10)
***
Puisi ini dan cerpen "Rumah Idaman Reno telah diikutkan dalam lomba JUARA Taman Sastra.
Diposting oleh Ham Haazimah Musta di 15.01 0 komentar
Rumah Idaman Reno
RUMAH IDAMAN RENO
“No’, Reno, Nak, kapan mau balik ke Indonesia?”
“Ibu sudah kangen sama kamu Nak?” (suara ibu bergetar di telpon)
“Iya Bu, nanti, belum saatnya, nanti.” (jawabku malas)
“Nak, Bu Hj. Niswan dah punya cucu loh”, “kapan kamu nyusul ? Ibu sudah pingin skali punya cucu dari kamu Nak.”
”Bu, Reno belum ….”
“Nak, ibu punya kenal…..” tut…tut…tut…tut…. “Reno, hallo….hallo…..”
Hampir tiap pagi aku dibangunkan dengan telepon yang sama, dengan pertanyaan yang itu – itu saja. Setelah menyelesaikan studi, sebenarnya aku berniat pulang ke kampung halaman, membuka usaha showroom disana. Namun tawaran pekerjaan yang menarik, fasilitas canggih dan tempat hiburan yang komplit di Tokyo seakan membuat otak lupa untuk sekedar menelpon, menanyakan keadaan keluarga di kampung, apalagi untuk pulang. Gelar S1 yang kudapat dari Universitas Pertanian dan Teknologi Tokyo, Teknik Sistem Mesin, menjadikan aku cukup mapan untuk menjalani hidup disini. Walau sebenarnya dari lubuk hati, aku sudah sangat rindu berkumpul dengan keluarga di rumah.
Usiaku hampir genap 27 tahun saat ini. Kalau dilihat dari umur dan pendapatan, sudah saatnya bagiku untuk mencari pendamping hidup. Sebenarnya, menikah sekarang atau lima tahun lagi bukan masalah bagiku. Namun bisa menjadi masalah besar bagi ibu yang sudah sangat menginginkan cucu dariku. Banyak Wanita cantik setengah telanjang yang siap diajak semalaman suntuk disini, namun wanita muslimah yang ingin kujadikan ibu untuk anak – anakku masih belum kutemukan.
***
Akhirnya, bujukan ibu untuk mengajakku pulang dan mencari seorang gadis Indonesia kuturuti. Meski harus setengah beradu argumen dengan ibu. Kamis, pesawat tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta pukul 17.45, sesuai dengan yang dijadwalkan. Aku memutuskan menginap semalam di hotel yang tidak jauh dari stasiun sebelum melanjutkan kembali perjalanan kereta menuju Bandung, kampung halaman, besok pagi.
“Alhamdulillah, sampai juga di stasiun” (kata pertama setelah keluar KA Argo Parahyangan, tepat pukul 09.20.)
Saat keluar dari stasiun, dua bola mataku mencari – cari wajah yang kukenal. Kuselidik satu – persatu sudut depan stasiun.
“Pak,,, mikro, Pak?”
“Taxi, taxi, pak?”
“Pak, kemana Pak?”
“Ayo Pak, ayo ke taxi saya saja”
Pertanyaan silih berganti dari supir di stasiun membuatku pusing. Belum lagi, isi perutku yang seakan ingin menyembur keluar. Untunglah aku segera bertemu dengan Ali, kakak tertuaku. Kami berpelukan, erat sekali, melepas kerinduan.
“Mana ibu, pak bos?” (tanyaku pada Kang Ali)
“Ibu masih di jalan, sepertinya mobil yang ibu tumpangi mogok”
“Hayoo, pasti ini Tian dan Bella. Halo, ponakan om yang pintar, ayo salaman dengan om” (menunjuk kearah dua bocah yang lucu dan gempal, bersembunyi malu – malu di balik tubuh Kang Ali)
Tidak lama kemudian,
“Reno, Nak, anakku, itu anakku yang dari Tokyo.” (suara ibu nyaring memanggilku dari kejauhan, membuat seluruh mata di Stasiun Bandung melihat momen pertemuanku dengan Ibu). “Reno, No’, anakku” (kata itu terus ibu ulangi, sambil menghapus airmata)
Kedua tangan ibu terus menggenggam tanganku, seakan tidak ingin berpisah lagi. Letak rumah yang jauh dari stasiun membuat badan pegal – pegal di perjalanan, tetapi mataku tak bisa tertutup sedetikpun. Sepertinya aku rindu melihat pemandangan kampung halaman yang sudah cukup lama kutinggalkan. Sampai di rumah, ternyata sudah banyak yang menyambut kedatanganku. Hanya beberapa kerabat dekat yang ku kenal.
“Nak, ini Lina anak Bu Laras, dia bidan loh di kampung ini” (kata ibu sambil semeringah, saat mulai mengenalkanku dengan satu persatu gadis belia yang bertamu ke rumah). “Lina, ini Reno, anak bungsuku dari Tokyo”. “Nak kalau ini Bu Ratih, yang duduk di kursi sana, anaknya Wiwin”. “kalau ini,,,,,”
Belum sempat ibu bicara lagi, aku langsung kabur ke kamar.
“baru datang saja program ibu sudah jalan, bagaimana kalau seminggu, mungkin dah punya istri dua kali ya” (kataku sambil nyengir)
Aku tertidur lelap sekali, mungkin karena kelelahan. Bangun pagi, di atas meja sudah ada secangkir kopi hangat ditemani aneka kue tradisional. Sungguh suasana yang sudah lama tidak kurasakan. Udara yang masih sejuk memanggilku untuk jogging memutari kompleks, sedikit menghangatkan badan. Aku merasa sedikit aneh, dipandangi gadis – gadis yang sedang menyapu halaman dan yang sedang bersiap – siap kekantor.
“Pria itu, anak Bu lani yang dari Tokyo ya?” (Tanya gadis berambut panjang lebat pada Wiwin, anak gadis Bu Ratih, yang dikenalkan ibu kemarin)
“Dia lagi cari gadis di kampung untuk dijadikan istri loh” (suara gadis – gadis berbisik). “Ayo, ayo, liat yuk”
“hai, Reno, watasi Risma desu, he, he, he” (sapa salah seorang gadis asli pribumi dengan bahasa jepang)
Aku hanya membalas dengan senyuman, menunduk kembali.
“cewek - cewek ini ndak ada kerjaan lain ya.” (cemohku dalam hati, melihat gadis kampung yang ibu banggakan tak ubahnya wanita yang kutemui di Jepang)
***
Di meja makan, ibu telah menungguku dengan sepiring nasi goreng dan teh hangat.
“Nak, bagaimana? Enak kan masakan ibu?”
“Iya Bu, enak. Sudah lama tidak makan masakan ibu”
“Bagaimana tadi jogingnya? Dah dapat gadis yang pas belum?”
Belum sempat kujawab,
“Kalau yang kemarin ibu kenalkan, bagaimana?”
“Bu, Ibu, kalau jodoh ndak kemana”. “Masa cari jodoh kayak pameran, aku itu Bu mau mencari pasangan bukan cari pajangan” (kataku sambil geleng – geleng kepala)
“kamu mau cari istri seperti apa sih Nak?” (Tanya ibu penasaran). “Kelamaan memilih bisa – bisa ndak nikah nikah loh”
“ Reno ingin mencari istri yang seperti ‘rumah’ Bu” (jawabku, membuat ibu bingung)
“Rumah? Ada – ada saja kamu ini No’, masa cari istri kayak rumah” (kata ibu sambil tertawa ringan)
“Iya Bu rumah, rumah yang hanya untukku diberikan kuncinya, yang kan terbuka atau tertutup atas izinku, yang setia menungguku pulang, yang membuatku nyaman , yang menjadi tempatku pulang saat lelah, tempatku menghabiskan rasa duka dan citaku bersama anak – anakku nanti” (terangku)
“Iya Bu, seperti rumah ini yang selalu kurindukan di jepang sana. Meski aku tidur di apartemen mewah, tetap rumah sederhana ini yang kurindukan.” “Seperti itu gambaran wanita yang ingin kunikahi Bu” (tambahku memperjelas)
“ Nak, wanita seperti itu sulit kau temukan, apalagi di jaman kerlap – kerlip seperti ini.” “Di kampung saja jarang, kalau kau jodoh dengan rumahmu itu, pasti aku ibu sekaligus mertua yang paling bahagia” (sambil tersenyum menatapku)
“Ibu bisa saja, doakan ya Bu”
***End***
by: Ham Haazimah
(Desember 2010)
Diposting oleh Ham Haazimah Musta di 14.56 0 komentar
Kamis, 20 Januari 2011
Semangat dari Mama
(21 Januari '11)
Diposting oleh Ham Haazimah Musta di 17.08 0 komentar
Rabu, 19 Januari 2011
Malam Abu - Abu
suara pecah meledak di malam pekat
pemandangan lekat yang berulang
kabur, pekat, menyengat
masih tenggelam dalam sesak
keluh bayi mungil redup
tertangguhkan euforia akhir masa
suara rentah terelakkan pekak
tak lagi kuasa gantungkan asa
harapan sakau diawang - awang
tersenyum membawa tuannya sujud
melupakan kiblat yang sesungguhnya
mengalahkan titah Pemberi ruh
bahagiakah raga setelahnya?
Damaikah kalbu yang t'lah menyusut?
kabur, pekak, menyengat
indera gusar tak lagi peka
by: Ham Haazimah
(1 Januari '11)
Diposting oleh Ham Haazimah Musta di 19.27 0 komentar
Menjemput Fajar
Air galau mencari tempat mengadu
Kehilangan wadah tuk berlindung
Mencari tuan yang sulit menampung
Saat pohon larut dalam perniagaan
Merapi beradu saling sikut
Menanti giliran jalankan amanah
Memupuk tanah yang tlah lama pilu
Tanah yang rindu dekapan abu
Biarlah luapan air sekedar bersua
Biarlah api menempa semangat yang tumpul
Biarlah awan dingin menyejukkan kalbu
Biarkanlah kelam mengokohkan asa
Bukan untuk kalut melainkan pecut
Bukan saatnya menyelam dalam ilu
Kini saat bergegas mengukir karya
Menampilkan kharisma pribadi istimewa
Menjemput era pembaruan
Untuk negeri yang rindu pemimpi
Untuk tanah yang telah lama pilu
Untuk bumi Indonesia….
By : Ham Haazimah
(3 Januari 2011)
(Puisi ini InsyaAllah akan dibukukan dengan karya lainnya dalam antalogi puisi "Kado Untuk Indonesia")
....Alhamdulillah....
Diposting oleh Ham Haazimah Musta di 19.02 0 komentar
Selamat Jalan Sahabat
Rasa ini pernah ada sebelumnya
Selamat Jalan Sahabat
by: Ham Haazimah
(20 Januari '11)
***Untuk Sahabat '07***
Diposting oleh Ham Haazimah Musta di 17.54 0 komentar
Merindu “Sosok Terindah”
Merindu
Diposting oleh Ham Haazimah Musta di 16.55 0 komentar
