Jumat, 21 Januari 2011

Rumah Idaman Reno

RUMAH IDAMAN RENO

 “No’, Reno, Nak, kapan mau balik ke Indonesia?”

“Ibu sudah kangen sama kamu Nak?” (suara ibu bergetar di telpon)

“Iya Bu, nanti, belum saatnya, nanti.” (jawabku malas)

“Nak, Bu Hj. Niswan dah punya cucu loh”, “kapan kamu nyusul ? Ibu sudah pingin skali punya cucu dari kamu Nak.”

”Bu, Reno belum ….”

 “Nak, ibu punya kenal…..” tut…tut…tut…tut…. “Reno, hallo….hallo…..”

Hampir tiap pagi aku dibangunkan dengan telepon yang sama, dengan pertanyaan yang itu – itu saja. Setelah menyelesaikan studi, sebenarnya aku berniat  pulang ke kampung halaman, membuka usaha showroom disana. Namun tawaran pekerjaan yang menarik, fasilitas canggih dan tempat hiburan yang komplit di Tokyo seakan membuat otak lupa untuk sekedar menelpon, menanyakan keadaan keluarga di kampung, apalagi  untuk pulang. Gelar S1 yang kudapat dari Universitas Pertanian dan Teknologi Tokyo, Teknik Sistem Mesin, menjadikan aku cukup mapan  untuk menjalani hidup disini. Walau sebenarnya dari lubuk hati, aku sudah sangat rindu berkumpul dengan keluarga di rumah.

Usiaku hampir genap 27 tahun saat ini. Kalau dilihat dari umur dan pendapatan, sudah saatnya bagiku untuk mencari pendamping hidup.  Sebenarnya, menikah sekarang atau lima tahun lagi bukan masalah bagiku. Namun bisa menjadi masalah besar bagi ibu yang sudah sangat menginginkan cucu dariku. Banyak Wanita cantik setengah telanjang yang siap diajak semalaman suntuk disini, namun wanita muslimah yang ingin kujadikan ibu untuk anak – anakku masih belum kutemukan.

***

Akhirnya, bujukan ibu untuk mengajakku pulang dan mencari seorang gadis Indonesia kuturuti. Meski harus setengah beradu argumen dengan ibu. Kamis, pesawat tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta pukul 17.45, sesuai dengan yang dijadwalkan. Aku memutuskan menginap semalam di hotel yang tidak jauh dari stasiun sebelum melanjutkan kembali perjalanan kereta menuju  Bandung, kampung halaman, besok pagi.

“Alhamdulillah, sampai juga di stasiun” (kata pertama setelah keluar KA Argo Parahyangan, tepat pukul 09.20.)

Saat keluar dari stasiun, dua bola mataku mencari – cari wajah yang kukenal. Kuselidik satu – persatu sudut depan stasiun.

“Pak,,, mikro, Pak?”

“Taxi, taxi, pak?”

“Pak, kemana Pak?”

“Ayo Pak, ayo ke taxi saya saja”

Pertanyaan  silih berganti dari supir di stasiun membuatku pusing. Belum lagi, isi perutku yang seakan ingin menyembur keluar. Untunglah aku segera bertemu dengan Ali, kakak tertuaku. Kami berpelukan, erat sekali, melepas kerinduan.

“Mana ibu, pak bos?” (tanyaku pada Kang Ali)

“Ibu masih di jalan, sepertinya mobil yang ibu tumpangi mogok”

“Hayoo, pasti ini Tian dan Bella. Halo, ponakan om yang pintar, ayo salaman dengan om” (menunjuk kearah dua bocah yang lucu dan gempal, bersembunyi malu – malu di balik tubuh Kang Ali)

Tidak lama kemudian,

“Reno, Nak, anakku, itu anakku yang dari Tokyo.” (suara ibu nyaring memanggilku dari kejauhan, membuat seluruh mata di Stasiun Bandung melihat momen pertemuanku dengan Ibu). “Reno, No’, anakku” (kata itu terus ibu ulangi, sambil menghapus airmata)

Kedua tangan ibu terus menggenggam tanganku, seakan tidak ingin berpisah lagi. Letak rumah yang jauh dari stasiun membuat badan pegal – pegal di perjalanan, tetapi mataku tak bisa tertutup sedetikpun. Sepertinya aku rindu melihat pemandangan kampung halaman yang sudah cukup lama kutinggalkan. Sampai di rumah, ternyata sudah banyak yang menyambut kedatanganku. Hanya beberapa kerabat dekat yang ku kenal.

“Nak, ini Lina anak Bu Laras, dia bidan loh di kampung ini” (kata ibu sambil semeringah, saat mulai mengenalkanku dengan satu persatu gadis belia yang bertamu ke rumah). “Lina, ini Reno, anak bungsuku dari Tokyo”. “Nak kalau ini Bu Ratih, yang duduk di kursi sana, anaknya Wiwin”. “kalau ini,,,,,”

Belum sempat ibu bicara lagi, aku langsung kabur ke kamar.

“baru datang saja program ibu sudah jalan, bagaimana kalau seminggu, mungkin dah punya istri dua kali ya” (kataku sambil nyengir)

Aku tertidur lelap sekali, mungkin karena kelelahan. Bangun pagi, di atas meja sudah ada secangkir kopi hangat ditemani aneka kue tradisional. Sungguh suasana yang sudah lama tidak kurasakan. Udara yang masih sejuk memanggilku untuk jogging memutari kompleks, sedikit menghangatkan badan. Aku merasa sedikit aneh, dipandangi gadis – gadis yang sedang menyapu halaman dan yang sedang bersiap – siap kekantor.

“Pria itu, anak Bu lani yang dari Tokyo ya?” (Tanya gadis berambut panjang lebat pada Wiwin, anak gadis Bu Ratih, yang dikenalkan ibu kemarin)

“Dia lagi cari gadis di kampung untuk dijadikan istri loh” (suara gadis – gadis berbisik). “Ayo, ayo, liat yuk”

“hai, Reno, watasi  Risma desu, he, he, he” (sapa salah seorang gadis asli pribumi dengan bahasa jepang)

Aku hanya membalas dengan senyuman, menunduk kembali.

“cewek - cewek ini ndak ada kerjaan lain ya.” (cemohku dalam hati, melihat gadis kampung yang ibu banggakan tak ubahnya wanita yang kutemui di Jepang)

***

Di meja makan, ibu telah menungguku dengan sepiring nasi goreng dan teh hangat.

“Nak, bagaimana? Enak kan masakan ibu?”

“Iya Bu, enak. Sudah lama tidak makan masakan ibu”

“Bagaimana tadi jogingnya? Dah dapat gadis yang pas belum?”

Belum sempat kujawab,

“Kalau yang kemarin ibu kenalkan, bagaimana?”

“Bu, Ibu, kalau jodoh ndak kemana”. “Masa cari jodoh kayak pameran, aku itu Bu mau mencari pasangan bukan cari pajangan” (kataku sambil geleng – geleng kepala)

“kamu mau cari istri seperti apa sih Nak?” (Tanya ibu penasaran). “Kelamaan memilih bisa – bisa ndak nikah nikah loh”

“ Reno ingin mencari istri yang seperti ‘rumah’ Bu” (jawabku, membuat ibu bingung)

“Rumah? Ada – ada saja kamu ini No’, masa cari istri kayak rumah” (kata ibu sambil tertawa ringan)

“Iya Bu rumah, rumah yang hanya untukku diberikan kuncinya, yang kan terbuka atau tertutup atas izinku, yang setia menungguku pulang, yang membuatku nyaman , yang menjadi tempatku pulang saat lelah, tempatku menghabiskan rasa duka dan citaku bersama anak – anakku nanti” (terangku)

“Iya Bu, seperti rumah ini yang selalu kurindukan di jepang sana. Meski aku tidur di apartemen mewah, tetap rumah sederhana ini yang kurindukan.” “Seperti itu gambaran wanita yang ingin kunikahi Bu” (tambahku memperjelas)

“ Nak, wanita seperti itu sulit kau temukan, apalagi di jaman kerlap – kerlip seperti ini.” “Di kampung saja jarang, kalau kau jodoh dengan rumahmu itu, pasti aku ibu sekaligus mertua yang paling bahagia” (sambil tersenyum menatapku)

“Ibu bisa saja, doakan ya Bu”


***End***
 by: Ham Haazimah
(Desember 2010)

0 Comments:

Posting Komentar