Jika kita berjalan menyusuri ibu kota, maka yang lekat di depan mata adalah gedung-gedung tinggi, pusat perbelanjaan yang megah, tempat hiburan dan bangunan-bangunan pencakar langit. Entah ini suatu kemajuan untuk bangsa Indonesia atau sebagai topeng yang menyembunyikan wajah anak-anak yang busung lapar meninggal diantara berjamurnya rumah makan, wajah memelas menadahkan tangan di setiap sudut pusat belanja, atau wajah resah bapak ibu yang kehilangan pekerjaan diantara gedung-gedung yang menjulang tinggi. Ku takut semua hanya topeng, mengantar masyarakat golongan tertentu larut dalam kenyamanan diantara penderitaan saudaranya.
Kenyamanan atau kesenangan yang menjadi poin pembahasan penulis adalah belanja, Jika kita perhatikan sekarang ini pusat belanja menjadi tempat favorit dari anak-anak sampai dewasa. Bukan hal yang wah lagi jika kaum hawa atau yang kebanyakan ibu-ibu pulang dengan tumpukan kresekan yang berisi hasil belanja, ada karena alasan butuh, diskon, takut kehabisan, ikut-ikutan, atau hanya untuk memenuhi kepuasan batin yang tidak lain adalah nafsu. Sebagian besar barang yang dibeli bukan merupakan kebutuhan mendesak dan yang paling menyedihkan lagi jika barang yang dihabiskan dengan uang yang tidak sedikit itu hanya dijadikan pajangan tanpa manfaat yang berarti. Sungguh miris dengan kehidupan saudara kita yang mungkin untuk makan sekali sehari saja harus terluntah- luntah bekerja. Mari kita renungkan bukan untuk sejenak.
Melihat dari pertumbuhan belanja sehari-hari yang meningkat dari 4,7 % di tahun 2009 menjadi 9% di Mei 2010, sekitar 44 triliun, banyak pendapat menyatakan Indonesia tidak terpengaruh oleh krisis global dan hal itu menunjukkan kondisi perekonomian nasional yang stabil, tetapi bukankah itu justru menunjukkan bangsa kita tidak peduli atau sama sekali tidak tahu terhadap isu global yang penting tetap belanja meskipun saku menipis tanpa memperdulikan kesusahan saudara yang masih mengganjal kerikil di perut karena belum mendapat uang untuk makan atau tidak mendapatkan tempat di bumi Allah untuk sekadar melebarkan tenda, tempat melepas peluh. Bukan karena mereka malas, tetapi jasa mereka yang dibayar recehan untuk membeli barang mewah dengan dolaran. Memang wah, sepertiya saling peduli, saling meringankan beban dan sikap zuhud (menjauhi hal bersifat duniawi, materi) yang diajarkan pendahulu kita telah bergeser 180 derajat.
Bagaimana jika uang yang dihabiskan untuk membeli kepeluan yang tidak mendesak kita alihkan untuk orang lain yang lebih membutuhkan? Bukankah akan lebih bermanfaat. Bukan hanya topeng yang melapisi kerutan wajah bangsa dengan kemegahan gedung-gedung yang menjulang tetapi akan muncul banyak wajah yang tidak lagi terisak hidup di negerinya sendiri. Kehidupan yang saling memakmurkan, saling mengasihi dan tidak saling sikut. Indonesia yang kan tampil dengan pribadi hemat terhadap dirinya namun dermawan kepada orang lain, dimulai dari menekan nafsu terhadap barang yang tidak perlu. Mulai dari diri sendiri.
Jadi, Jika ditanya soal impian, itulah impianku. Untuk lima tahun kedepan berharap negeri ini dapat saling memakmurkan dengan mengalihkan bajet belanja kepada yang membutuhkan agar tidak ada lagi mata yang berkaca-kaca diantara kesenangan, tidak ada lagi perut yang kenyang diantara yang lapar, tidak ada lagi orang yang berilmu diantara orang yang bodoh.
(25 Januari 2011)
***
by: Ham Haazimah
(Tulisan ini diikutkan dalam lomba "Impian 5 Tahun kedepan_Mujahid Muda Mumu")
yang ingin ikutan klik di link:
http://ceritalensa-mujahidmuda.blogspot.com/2010/12/mumu-writing-contest-2010.html
Selasa, 25 Januari 2011
Saling Memakmurkan dengan Mengalihkan Bajet Belanja
Diposting oleh Ham Haazimah Musta di 01.23
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)

4 Comments:
Semoga betul2 terwujud 5 tahun ke depan... amin :)
heheh.. awalnya sy kira ini untuk periode januari 2010 ternyata saya cek ulang so betuL untuk periode januari 2011..
semoga menang k'Lia.. :)
Amiinnn....:)mudah2n terwujud...
iya '11....bkinmi jga vir,,,,spaya tmbah bnyak doa untuk Indonesia...^^
5 hari lagi kalau ndak salah deadlinenya...
Posting Komentar