Rabu, 19 Januari 2011

Merindu “Sosok Terindah”

Tugas untuk mengisi liburan kali ini adalah membuat resume biografi tokoh yang dikagumi.

 “Waduh Yan, biografi ?”, “Mataku ndak mampu membaca buku ilustrasi, ndak ada gambarnya.” 

Yana hanya mengangguk, tersenyum,  tidak menjawab pertanyaanku. Kalau dipir-pikir, aku memang lebih sering mengeluh dibanding dia yang lebih banyak kesibukan. Selama hampir tiga tahun sebangku dengannya, aku tau dia pribadi yang istimewa. Banyak hal berbeda dari ucapan dan  lakunya yang membuatku bangga menjadi salah satu sahabatnya. Yana selalu berusaha menyelami ilmu, bukan hanya sekedar menghafal untuk nilai akhir yang sempurna. Pribadi yang mandiri, tidak ada keluh yang kudengar dari bibirnya, walaupun hampir setiap hari ia membawa gorengan yang dibuatnya sendiri untuk dijajakan di kelas. Disaat mode terbaru menjadi topik pembicaran hot, dia memanjangkan kerudungnya, mendekap telinganya untuk kata yang tidak manfaat. Memang Yana, sahabatku yang unik.

“Yan, Yana mau baca biografi siapa?” (tanyaku sambil melebarkan pupil)

“Siapa ya…? Belum terpikirkan sih…, Kalau Lia?”

“Mungkin presiden, Raden Kartini, Moh. Hatta atau siapa ya…?”,” Binguuuung ….”

“Lia, Aku duluan yah….Ayahku sepertinya sudah didepan”, “Assalamu’alaikum” (Yana pamit terburu - buru setelah menjabat erat tanganku).
***

Lebih dari sebulan berlibur, sudah tidak sabar rasanya ingin bertemu Yana dan teman – teman. Aku ingin tau biografi siapa yang mereka ulas. Beberapa teman sudah kutemui di Perpusda saat mengobrak – abrik buku, mencari tokoh yang dikagumi sampai mandi peluh.

“Lia, Lia…, lama ndak jumpa”  (sapa Yana dengan senyum khas, menyembunyikan setengah wajahnya dengan lengan jubah putih abu - abunya)

“Yana….” (sambil cium pipi kiri dan kanan)

Kami bercerita pengalaman liburan sampai suara Bu Tati, guru Bahasa Indonesia, terdengar mendekati ruangan. Nyaliku langsung menciut. Kuambil kembali resumeku, kubaca berulang kali, kuselidik satu persatu tanda baca yang mungkin terlewatkan. Yana terus tersenyum sendiri, entah apa lagi yang dipikirannya. Dia sama sekali tidak membaca ulang resumenya, memperlihatkan padaku pun tidak. Padahal kutau persis dia kesulitan dalam mengingat. Aku bertanya – Tanya dalam hati, sebenarnya siapa idolanya yang membuat dia begitu percaya diri, semeringah menunggu Bu Tati.

“Yan…, Aku lihat punyamu yah Yan…” (pintaku dengan wajah memelas, penasaran ingin membaca resume yang sejak tadi disimpan rapi di laci)

“Sabar…, sabar, nanti juga tau”

“huuu…,Einstein yah Yan? Atau Aktris?” (godaku sambil tertawa ringan)
***

Satu persatu dari kami mulai menceritakan tokoh yang dikagumi dengan berbagai macam ekspresi. Ada yang tersipu – sipu malu menceritakan biografi aktor korea yang dipujanya, ada yang berteriak – teriak menyuarakan kepahlawanan Soekarno, ada juga yang hanya sekedar lawak didepan kelas. Suasana kelas berubah pasar, Bu Tati pun ikut tertawa mengiyakan kami ngakak. Aku juga dapat bagian menjadi tontonan menggantikan papan tulis di depan. Karena aku dikenal agak pendiam di kelas, Teman – teman cuman nyengir, menahan – nahan udara di leher yang terperangkap, sisa kelucuan sebelumnya.

“Berikutnya, Herdayana” (nama terakhir yang dipanggil Bu Tati)

“Akhirnya….” (gumamku dalam hati)

Cerita tokoh sahabatku ini yang sebenarnya penasaran kutunggu. Yana diam beberapa menit, kami pun diam.

“Yana mau cerita biografi siapa?” (Tanya Bu Tati, membuatku yakin Yana lupa tentang isi biografinya)

Sepuluh menit berlalu,

“Beliau tidak tertawa kecuali sekedar tersenyum, bila kamu melihatnya, akan berkomentar mata beliau bercelak, padahal beliau tidak memakainya (HR. Tirmidzi hadits hasan)” (jawab Yana membuat kami bertanya – Tanya), “Beliau memiliki kepala, dua tangan dan kaki yang besar-besar, berwajah tampan, belum pernah kulihat orang seperti beliau sebelum dan sesudahnya menurut HR. Bukhari.”

“Dia adalah Muhammad, Rasulullah SAW, idolaku”

“Disaat pemuda seusianya sibuk berfoya – foya, Beliau memilih serius berdagang, hidup sederhana, menampilkan  kejujuran dan keluhuran budi.”

“Disaat semua mata disapu lelap, tidur nyaman dalam buaian, beliau terjaga. Merenung, menyepi di gua Hira, menunggu petunjuk dari sang khalik melalui Jibril. Petunjuk yang mengantar kita meneguk oase Islam.”

“Saat hidup diantara kaum yang menyembah berhala, Dia menyuarakan Islam. Naik ke puncak Shafa
berteriak memanggil kaumnya menyeru agar menyembah Allah yang Esa tanpa gentar dengan pedang yang sewaktu – waktu bisa melayangkan lehernya.”

“saat anak lelaki yang didambanya wafat diantara kaum Quraisy yang tertawa bahagia, beliau berkata ‘Air mata boleh mengalir, hati boleh sedih, tetapi lisan hanya boleh mengucapkan apa yang Allah ridho.”

“ Diasaat wafat beliau mewasiatkan Al-Qur’an dan Hadits sebagai pegangan. Bukan hanya untuk  istrinya, sahabatnya atau anak – anaknya, melainkan untuk seluruh umat, karena cintanya. Bukan emas yang ditimbun, istana yang berdiri megah, atau ladang berhektar – hektar beliau tinggalkan karena harta tidak akan memberi kecerahan hidup seperti yang diwasiatkannya (Al-Qur’an dan hadits). Terlebih beliau tidak menyimpan timbunan harta melainkan untuk dibagikan kepada yang membutuhkan.”

 “siapa lagi yang kiranya bisa menandingi Muhammad untuk diteladani, dijadikan idola.” (tambah Yana melanjutkan ceritanya dengan intonasi yang tidak biasa)

“…………….
Yana mendiskripsikan detil tentang idolanya, membuatku seakan – akan yakin ia pernah bertemu Muhammad. Sahabat yang kusangka pelupa ternyata jauh lebih tajam pemikirannya daripada aku. Disaat kami berpikir biografi tokoh idola pemimpin negara, ahli ekonomi, ilmuwan, tokoh pahlawan nasional, dia terpikir kepada Raulullah. Sosok pemimpin yang berjuang jiwa raga, membawa nikmatnya islam hingga sampai pada kami. Sosok yang ahli dalam bidang ekonomi, sekaligus sebagai ayah dan suami yang dicintai kelurganya.

 “Subhanallah, ….” (hanya itu ucap yang kulewatkan dikerongkonganku yang basah saat  mendengar getar suara sahabatku, Yana)

Cerita yang dikisahkan Yana membawa pikiranku melayang – layang. Kuaduk – aduk kembali otakku mengingat kata – kata yang sering kuanggap ocehan, ternyata ekspresi rindu yang dalam. Pujian sederhana namun terpatri kuat kekaguman melekat pada lakunya. Dilontarkan secara sederhana terhadap sosok terindah,  Yang kan menang telak, jika diadu dengan rindu belia yang memimpikan bertemu dengan aktor idolanya.

Dari warna kesukaan, makanan favorit, sejarah kelahiran, perjalanan hidup, hampir tidak terlewatkan.
***

Dalam lamunanku….

 “Yan, Yana ndak capek bawa gorengan tiap hari ke sekolah?”

“Yah, kalu capek sih capek. Tapi Semua karena tanggung jawab”, “setelah baliq aku merasa punya tnggung jawab terhadap kelurga dan biaya hidupku. “ (jawabnya serius, menyungkil salah satu mozaik di kalbu)

“Kamu ndak…

“Aku senang kok, mengerjakan tanggung jawabku sekaligus meniru kegemaran sosok yang kurindukan”. (jawabnya sambil senyum menandingi senyum monalisa)

“Iya Lia, idolaku adalah seorang pedagang, yang menjajakan barang dagangannya dari satu negeri ke  negeri yang lain sejak berusia 12 tahun.”

Kuterdiam, mencoba meraih – raih sosok “wah” yang  membuat sahabatku bahagia dengan bersusah – susah. Yang membuat dia rela menghabiskan separuh waktu santainya dengan tungku panas setiap hari. Sungguh semangat yang membuat hati iri. Miris dengan kehidupanku yang bahkan untuk sekedar membeli permen di warung harus merogoh saku  orangtua.

Tanpa kusadari banyak ilmu yang Yana bagikan padaku. Dari ungkapan – ungkapan tentang sosok yang ia rindukan, tanpa kusadari, tumbuh pula kekagumanku terhadap sosok yang dia sebut “my idol”, Rasulullah SAW.
***

 “Dia idolaku, sosok yang menjadi panutan hidup, pedoman bagi siapa saja yang mengaku islam. Kekagumanku terhadap sosok terindah, indah pemahaman, ucapan, dan lakunya, Rasulullah, Muhammad SAW” (kata Yana mengakhiri kisahnya dan lamunanku)
 
Merindu
Saat kebanyakan tubuh mengingsut dalam selimut malam

Titah sang Raja tak lagi terasa indah, malah menggidik 

 Masih  ada pasangan mata terjaga menghapus lelap

Teguh, tak terlenakan zaman

Merindu sosok yang terindah

Karena  Malik….

Karena Allah….

***end***
By: Ham Haazimah
(Lya_hup4thahirah@yahoo.com)

 Sumber inspirasi:
- 5% dari Kisah Renungan Inspiratif “Rasulullah
-20% dari ”Khadijah_The true Love Story of Muhammad” oleh Abdul Mun’im Muhammad
-75% dari saudariku Yana dan bumbu cerita penulis
Cerpen ini tidak sepenuhnya diangkat dari kisah nyata . Terdapat beberapa ide yang ditambahkan penulis untuk menguatkan isi cerita.
***
Spesial Thank’s to “Yana”
***

0 Comments:

Posting Komentar