“Shafa, tau ndak kalau orangtua Bian ingin meminangmu?”
“haaaa…, ndak mungkinlah, Tante Sintya ada – ada saja.”
“beneran, coba tanya ibumu”, “tapi jangan sampe ibu kamu tau ya kalau tante yang bilang.”
“Haaaa…, ibuku setuju…?”
“Ibumu datang, ku off dulu telponnya ya…”
Kata – kata Tante Sintya cukup untuk menjadi kopi pahit menahan kantuk malam ini. Kebetulan besok ujian anatomi jadi sekalian bisa begadang. Tentu saja bukan tumpukkan nama anggota tubuh dalam bahasa yunani yang masuk dalam otakku, tapi soal pinangan kak Bian yang duluan merasuk.
“Benarkah….”
“Mana kutau.”
“Sudah siap kah…?”
“Belum kamu masih ingusan”, “benaran deh, sama sekali belum siap.”
Malam ini Shafi datang lagi. Setiap aku berpikir serius, lagi pingin sendiri, dia pasti datang mengacau. Teman Ilusiku ini sebaiknya kukunci dulu rapat – rapat dalam lemari, biar pengap sekalian.
***
Assalamualaikum ya Akhi ya Ukhti
Assalamu’alaikum ya Akhi ya Ukhti
salam salam hai saudaraku semoga Allah merahmatimu….
(alunan musik “Assalamualaikum” lagu Opick yang kujadikan nada panggilku)
“Assalamu’alaikum, halo, ini siapa ya?”
“ehm…, Waalaikum’salam, Ini betul nomornya Shafa?”
“Iya betul.”
“Ini Bian, maaf Shafa lagi sibuk ya?”
Dag…dig…dug….
Jantungku seakan ngedance. Kuatur nafas dan pikiranku yang mulai ngelantur.
“eh,,,iya, iya, ada apa ya Kak? Ada yang bisa kubantu.” (jawabku celingukan, berusaha menyembunyikan petasan yang sudah mulai mengasap)
“Shafa ndak lagi sibuk kan?”
“Tidak kok Kak, ada apa Kak?”
“Sebenarnya Kak Bian pingin minta tolong ma Shafa, boleh ndak?”
“Kalau saya bisa bantu, InsyaAllah saya usahakan.”
“Rencananya saya akan ke Semarang minggu depan, Shafa ada kenalan, tempat menginap beberapa hari sebelum Kak Bian dapat tempat ? ”
Sepertinya petasan sudah mutasi jadi bom. Aku menggenggam teleponku erat, berjalan memutar – mutar di dalam kamar kosanku yang luasnya kurang lebih 3×3 meter.
“Shafa, bisa tidak? Maaf, sebenarnya Kak Bian juga ndak enak merepotkan Shafa, apalagi Shafa pasti sibuk dengan kuliahnya.”
“eh,,,tidak Kak, ndak apa kok, Shafa juga lagi tidak ada jam kuliah, jadi banyak waktu luang. InsyaAllah nanti Shafa coba tanya ke teman - teman.” (Jawabku datar, mencoba meredam emosi yang sepertinya kurang berhasil)
“Makasih banyak ya Shafa, maaf sekali lagi merepotkan.”
“Iya, ndak apa, santai saja Kak.”
***
Tidak ada hal yang istimewa. Setelah selesai mengurus kerjaan, Kak Bian balik. Saat di Semarang, aku memutuskan untuk meminimalkan pertemuanku dengan Kak Bian, aku kurang pandai menutupi gerogiku, berpura – pura pikun tentang perjodohanku dengan Kak Bian.
***
Setelah hasil ujian keluar aku pulang ke kampung halaman, menghabiskan waktu liburan dengan keluarga tercintaku. Agak sedikit aneh, Tante Sintya yang selalu menjadi informan kemajuan perjodohanku dengan Kak Bian sudah tidak pernah lagi membahasnya
.
“Shafa, ayo nak, kita ke acaranya Dzaky .”
“Iya Bu….”
Jalan menuju tempat pernikahan sudah tidak asing lagi, sepertinya tetangga Kak Bian yang menikah. Sesampaiku di pesta, aku terhentak kaget. Ternyata Dzaky itu Kak Bian, Dzakiyy Abian Hadim. Setelahnya baru kuketahui, Kak Bian menolak perjodohan kami. Kak Bian sudah mempunyai pilihan lain. Pilihan terbaik untuk pendamping hidupnya.
“Semoga bisa menjadi keluarga yang mawaddah warahma, Kak Bian bukan yang terbaik untukku, Rencana Allah yang tidak akan pernah bisa kutebak.”
***end***
by: Ham Haazimah (18 Jan. '11)

0 Comments:
Posting Komentar